
KARAWANG, mulamula.id – Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik keras. Bukan soal kebijakan, tapi sikap sebagian elite yang menurutnya gemar mengejek dan meremehkan capaian bangsa.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri panen raya sekaligus pengumuman swasembada beras di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Nada Prabowo lugas. Ia menyebut ada elite yang aktif menghujat, tapi absen saat Indonesia mencatat prestasi.
Nyinyir di Medsos, Absen di Lapangan
Menurut Prabowo, sebagian elite hanya vokal di media sosial. Mereka cepat menyindir, tapi jarang memberi apresiasi.
Ia mencontohkan atlet yang berjuang mengharumkan nama Indonesia. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada pengakuan. Yang muncul justru cibiran.
“Kerjanya mengejek, menghujat, memfitnah,” kata Prabowo di hadapan petani dan pejabat daerah.
Ia bahkan menyebut sikap tersebut sebagai sesuatu yang “aneh”. Terlalu sibuk mencari celah, bukan solusi.
Diduga Dibayar, tapi Tak Digubris
Prabowo tak menutup kemungkinan kritik bernada nyinyir itu punya motif tertentu. Ia menduga ada elite yang sengaja dibayar untuk menyerang capaian pemerintah.
Baca juga: Prabowo Singgung Pilpres 2029, “Kalau Rakyat Pilih Lagi, Apa Salah?”
Namun ia menegaskan tidak ingin terjebak polemik. Baginya, jumlah mereka kecil. Dampaknya terbatas. Fokus utama tetap pada kerja nyata. “Saya tidak peduli,” ujar Prabowo singkat.
Swasembada Beras Jadi Penanda
Di tengah kritik itu, Prabowo menegaskan satu hal penting, Indonesia sudah mencatat tonggak baru.
Sejak 2025, Indonesia resmi mendeklarasikan swasembada beras. Bukan klaim, tapi hasil kerja lapangan. Petani, kebijakan, dan produksi nasional.
Ke depan, target diperluas. Jagung. Protein. Ketahanan pangan menyeluruh. Prabowo menyebut panen raya ini sebagai bukti konkret bahwa Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri.
“Ini tonggak penting dalam kemerdekaan bangsa,” ujarnya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.