Peta Baru Saham Danantara, Tambang dan Baja Favorit 2025

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada 1.500 pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam acara Town Hall Danantara Indonesia 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Senin (28/4/2025). Foto: @sekretariat.kabinet.

JAKARTA, mulamula.id Tahun 2025 menjadi momen penting bagi saham-saham BUMN yang berada di bawah holding Danantara. Arah pasar tidak lagi seragam. Investor memilih jalan berbeda.

Data perdagangan sepanjang tahun menunjukkan satu hal jelas, pasar sedang berotasi. Modal bergeser. Dari sektor finansial ke sektor riil. Dari bank ke komoditas.

Pergeseran ini bukan kebetulan. Tapi, mencerminkan perubahan cara investor membaca risiko dan peluang.

Komoditas Jadi Bintang Baru

Sektor industri dasar dan pertambangan menjadi primadona sepanjang 2025. Saham-saham di sektor ini mencatatkan lonjakan harga paling agresif.

Paling mencolok adalah PT Krakatau Steel Tbk. Saham KRAS melesat lebih dari 220 persen. Kenaikan ini ditopang restrukturisasi keuangan dan naiknya permintaan baja domestik, terutama dari proyek infrastruktur nasional.

Pasar merespons cepat. Neraca membaik. Prospek dinilai lebih sehat.

Baca juga: Krakatau Steel Cetak Laba, Restrukturisasi Mulai Tunjukkan Hasil

Di sektor tambang, PT Timah Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk juga tampil kuat. Keduanya terdorong oleh harga komoditas global yang kembali menguat.

Kebijakan hilirisasi mineral ikut memberi sentimen positif. Produk bernilai tambah meningkat. Margin perusahaan ikut terdongkrak. Bagi investor, sektor ini dinilai lebih tahan guncangan global.

Transportasi dan Telekomunikasi Ikut Menguat

Bukan hanya komoditas yang bersinar. Beberapa sektor lain juga mencatatkan pemulihan.

PT Garuda Indonesia Tbk mengalami lonjakan harga saham lebih dari 80 persen. Kenaikan ini mencerminkan pulihnya kepercayaan pasar terhadap operasional maskapai nasional tersebut.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk naik hampir 30 persen. Telkom kembali diposisikan sebagai saham defensif, stabil di tengah pasar yang fluktuatif.

Bank Besar Justru Ditinggal

Di sisi lain, sektor perbankan menghadapi tekanan berat. Saham bank-bank besar BUMN terkoreksi sepanjang 2025.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk masing-masing turun lebih dari 12 persen. PT Bank Negara Indonesia Tbk juga ikut melemah.

Baca juga: BEI Kunci Tombol Batal di Jam Kritis, Apa Artinya buat Investor Muda?

Investor khawatir pada perlambatan kredit. Daya beli belum pulih penuh. Risiko kredit bermasalah mulai diperhitungkan ulang.

Tekanan eksternal turut memperberat. Suku bunga tinggi di negara maju memicu arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Konstruksi Masih Bergulat

Sektor konstruksi BUMN juga belum keluar dari fase sulit. PT Wijaya Karya Tbk dan PT Jasa Marga Tbk mencatatkan penurunan harga saham lebih dari 20 persen.

Pasar masih berhati-hati. Beban utang tinggi dan siklus pembayaran proyek yang panjang menjadi catatan utama.

Sinyal Penting bagi Investor Muda

Pergerakan pasar 2025 memberi pelajaran penting. Strategi investasi tidak bisa stagnan.

Saat siklus kredit melambat, sektor finansial tertekan. Ketika harga global menguat, sektor komoditas mengambil alih panggung. Pasar bergerak mengikuti dinamika makro, bukan sekadar nama besar.

Baca juga: Indonesia Jadi Primadona Baru Rantai Pasok Dunia

Bagi investor, termasuk generasi muda, membaca konteks menjadi kunci. Diversifikasi bukan opsi tambahan, melainkan kebutuhan.

Pasar 2025 menunjukkan satu hal, yang adaptif bertahan, yang kaku tertinggal. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *