
KAYU selama ini dianggap bahan baku yang selalu tersedia. Murah. Mudah didapat. Tapi, anggapan itu mulai runtuh. Industri global kini menghadapi satu kenyataan baru, pasokan kayu makin tertekan, sementara permintaan justru terus naik.
Tekanan datang dari berbagai arah. Konstruksi ramah lingkungan mendorong penggunaan engineered timber. Industri tekstil masih bergantung pada serat berbasis kayu. Kemasan kertas melonjak seiring ledakan e-commerce. Semua bertemu pada sumber yang sama: hutan.
Masalahnya, hutan tidak tumbuh secepat permintaan pasar.
Permintaan Naik, Hutan Terdesak
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim ikut mempersempit pasokan kayu. Kebakaran hutan, cuaca ekstrem, dan gangguan ekosistem membuat produktivitas hutan turun. Di saat yang sama, regulasi di banyak negara makin ketat untuk menekan deforestasi.
Kombinasi ini membuat pasar kayu tidak lagi longgar. Kayu bersertifikat dan bisa dilacak asalnya menjadi rebutan. Industri yang bergantung pada pulp, seperti kemasan dan tekstil berbasis viscose, mulai merasakan dampaknya paling cepat.
Baca juga: Pemerintah Tertibkan 1,5 Juta Hektare Hutan, Ada Apa di Baliknya?
Menurut analisis Canopy dan Finance Earth yang dikutip ESG News, sekitar seperlima penggunaan kayu global saat ini mengalir ke produksi pulp tekstil. Angka ini membuat sektor fesyen ikut berada di zona rawan.
Regulasi Bikin Pasar Makin Ketat
Masalah pasokan diperparah oleh aturan baru. Uni Eropa akan memberlakukan European Union Deforestation Regulation (EUDR) mulai 2026. Aturan ini melarang produk berbasis hutan masuk pasar Eropa jika tidak terbukti bebas deforestasi.
Baca juga: Eropa Tunda Lagi Aturan Anti-Deforestasi hingga Akhir 2025
Artinya jelas, kayu tanpa dokumen lengkap dan rantai pasok transparan bakal tersingkir. Perusahaan harus berebut pasokan yang lolos standar. Biaya naik. Risiko bisnis ikut meningkat.

Investor pun mulai lebih waspada. Perusahaan yang masih bergantung pada kayu dari sumber berisiko dinilai kurang siap menghadapi masa depan.
Jalan Keluar Mulai Dicari
Kabar baiknya, industri mulai mencari alternatif. Serat daur ulang, limbah pertanian, hingga bahan tekstil generasi baru mulai dilirik. Tujuannya satu: mengurangi ketergantungan pada kayu perawan.
Nicole Rycroft dari Canopy menyebut pola lama tidak lagi aman. Jika perusahaan terus mengandalkan pasokan kayu konvensional, mereka sedang mengambil risiko besar, baik dari sisi biaya, pasokan, maupun reputasi.
Baca juga: Rp175 Triliun Melayang, Hutan Indonesia Digergaji Korupsi
Pendekatannya kini bergeser. Bukan hanya soal ramah lingkungan, tapi soal bertahan dalam pasar yang makin ketat.
Bukan Isu Jauh, tapi Dekat
Kelangkaan kayu bukan cerita masa depan. Dampaknya sudah mulai terasa hari ini. Dari harga kemasan, produk fesyen, hingga strategi bisnis global.
Kayu tak lagi sekadar bahan baku. Tapi, kini jadi simbol perubahan besar ketika alam memberi batas, industri dipaksa beradaptasi. ***
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.