
PERGERAKAN di puncak otoritas ekonomi Indonesia sedang jadi sorotan. Mundurnya Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung, disusul masuknya nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai calon pengganti, memantik spekulasi lebih besar, apakah negara sedang menyiapkan pertukaran posisi antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu)?
Pertanyaan itu menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu langsung dengan Juda Agung, Selasa (20/1). Dalam kesempatan tersebut, Purbaya bahkan menyebut Juda berpotensi menggantikan Thomas sebagai Wakil Menteri Keuangan.
“Dia kan background-nya kira-kira sama saya. Insinyur, habis itu jadi ekonom. Walaupun dia IPB, gua ITB. Cocok,” kata Purbaya kepada awak media.
Dari BI ke Kemenkeu, dari Kemenkeu ke BI?
Secara resmi, pengunduran diri Juda Agung dari jabatan Deputi Gubernur BI menjadi titik awal proses penggantian. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat presiden (Surpres) ke DPR untuk memproses calon pengganti.
Salah satu nama yang diajukan adalah Thomas Djiwandono, yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
“Ada beberapa nama yang dikirimkan, salah satunya memang betul ada nama yang kita usulkan adalah Pak Wamenkeu atas nama Pak Tommy Djiwandono,” ujar Prasetyo.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan DPR akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap para calon Deputi Gubernur BI dalam waktu dekat.
Masuknya nama Thomas langsung memantik diskusi, terutama soal latar belakangnya sebagai pejabat aktif di Kemenkeu dan relasi keluarga dengan Presiden. Namun Misbakhun menepis kekhawatiran tersebut.
“Apa kaitannya dengan independensi? Jangan sampai urusan yang sifatnya insinuatif dijadikan isu untuk mendegradasi kemampuan Pak Tomy sendiri,” kata Misbakhun.
Sinyal Pergeseran yang Makin Terang
Spekulasi soal tukar posisi makin kuat ketika Purbaya menyebut akan ada perubahan struktur sebelum Februari 2026. Meski mengaku tidak mengetahui secara pasti soal pertukaran jabatan, pernyataan itu dianggap sebagai sinyal bahwa konfigurasi baru sedang disiapkan.
“Perubahan struktur akan terjadi sebelum Februari 2026,” ujar Purbaya.
Pertemuan Purbaya dengan Juda juga tidak sepenuhnya bersifat seremonial. Keduanya membahas kondisi ekonomi terkini, termasuk isu fiskal dan moneter. Dalam konteks ini, banyak pihak membaca langkah tersebut sebagai bagian dari konsolidasi kebijakan di awal pemerintahan Prabowo.
Teknokrat Moneter ke Fiskal
Juda Agung dikenal sebagai teknokrat moneter murni. Ia meniti karier panjang di BI sejak 1991, pernah menjadi Advisor IMF di Washington DC, dan memegang sejumlah posisi strategis di kebijakan moneter. Latar belakang itu dinilai cocok jika ia bergeser ke Kemenkeu.
Ekonom INDEF Esther Sri Astuti menilai, secara kompetensi, Juda relatif sesuai jika berpindah ke Kementerian Keuangan.
“Beliau background pendidikan makroekonomi tapi konsentrasinya memang moneter,” kata Esther.
Sebaliknya, masuknya figur berlatar fiskal seperti Thomas ke BI dibaca sebagai upaya memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, dua instrumen utama pengelolaan ekonomi negara.
Apa Artinya bagi Publik dan Pasar?
Hingga kini, belum ada keputusan resmi soal pengangkatan Juda sebagai Wakil Menteri Keuangan. Namun rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu hal, negara sedang menguji ulang keseimbangan peran antara BI dan Kemenkeu.
Bagi pemerintah, langkah ini bisa memperlancar koordinasi kebijakan.
Bagi pasar, sinyal tersebut tetap perlu dicermati, terutama terkait persepsi independensi bank sentral.
Satu hal yang pasti, ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan sinyal penataan ulang arsitektur kebijakan ekonomi nasional, yang dampaknya akan terasa jauh melampaui nama-nama di struktur organisasi.struktur. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.