
JAKARTA, mulamula.id – Indonesia membawa isu lingkungan ke panggung global. Presiden Prabowo Subianto bertemu Raja Charles III di London dan menyepakati kerja sama pemulihan ekosistem 57 taman nasional di Indonesia.
Kesepakatan itu menandai babak baru diplomasi hijau. Inggris berkomitmen membantu Indonesia memperbaiki ekosistem kawasan konservasi yang selama ini berada di bawah tekanan alih fungsi lahan, perburuan liar, hingga konflik satwa-manusia.
Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya menyebut program ini tidak sekadar wacana. Pemulihan sudah berjalan di dua lokasi awal, yakni Taman Nasional Way Kambas dan kawasan Peusangan di Aceh.
Dimulai dari Gajah
Langkah pertama difokuskan pada konservasi gajah. Bukan tanpa alasan. Gajah Sumatra menjadi simbol krisis keanekaragaman hayati sekaligus indikator kesehatan ekosistem hutan.
Di kawasan Peusangan, sekitar 90 ribu hektare lahan akan dikelola bertahap. Tidak semuanya untuk habitat gajah. Sebagian dialokasikan bagi pemulihan ekosistem lain, mulai dari hutan, koridor satwa, hingga wilayah penyangga bagi masyarakat sekitar.
Baca juga: Selamatkan Gajah Sumatra, Aceh Jadi Fokus Konservasi
Pengelolaan kawasan ini melibatkan World Wide Fund for Nature (WWF). Model kolaborasi negara–organisasi konservasi ini diharapkan mempercepat pemulihan sekaligus menjaga akuntabilitas pengelolaan.

Diplomasi Hijau di Jantung London
Pertemuan Prabowo dan Raja Charles berlangsung di Lancaster House, bertepatan dengan agenda Filantropi Konservasi Gajah Peusangan. Lokasi ini bukan tempat sembarangan. Lancaster House kerap menjadi panggung diplomasi tingkat tinggi Inggris.
Raja Charles dikenal lama menaruh perhatian pada isu lingkungan dan perubahan iklim. Bagi Indonesia, dukungan politik dan moral dari Inggris memberi bobot internasional pada agenda konservasi nasional.
Prosesi pertemuan berlangsung singkat namun simbolik. Prabowo mendapat penghormatan jajar kehormatan, lalu berdialog langsung dengan Raja Charles sebelum mengikuti rangkaian acara utama.
Baca juga: Karbon Masuk Way Kambas, Konservasi Dipertanyakan
Bagi generasi muda, isu ini relevan dengan masa depan. Taman nasional bukan hanya soal satwa liar, tapi juga cadangan karbon, sumber air, dan benteng terakhir menghadapi krisis iklim.
Kerja sama ini membuka peluang transfer pengetahuan, pendanaan filantropi, hingga standar pengelolaan kawasan konservasi yang lebih modern. Tantangannya jelas. Konsistensi kebijakan, keterlibatan masyarakat lokal, dan transparansi pelaksanaan di lapangan.
Jika dijalankan serius, pemulihan 57 taman nasional bisa menjadi tonggak penting. Bukan hanya untuk citra global Indonesia, tetapi juga untuk keberlanjutan hidup generasi berikutnya. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.