
Foto: Wikipedia.
JAKARTA, mulamula.id – Regulator pasar modal Indonesia lagi ngebut. Targetnya, bikin pasar saham makin “ramah global”.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) baru saja bertemu pengelola indeks global MSCI secara virtual. Hasilnya? Indonesia mempercepat kenaikan porsi saham publik alias free float jadi 15% pada Maret 2026.
Langkah ini bukan kosmetik. Ini soal reputasi pasar.
Bukan Cuma Angka, Tapi Transparansi
Menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, ada dua isu utama yang dibahas dengan MSCI, masing-masing kenaikan free float dan keterbukaan data investor besar.
Sekarang, data kepemilikan investor hingga batas 1% mulai dibuka. Implementasinya dimulai Februari ini. Artinya, struktur kepemilikan emiten bakal lebih transparan. Buat investor global, ini penting banget.
Baca juga: Pasar Modal RI Dibongkar Ulang, OJK Luncurkan 8 Jurus Reformasi
Pasar modal modern bukan cuma soal likuiditas. Tapi, juga soal kejelasan siapa pegang apa.
Kenapa Free Float Jadi Sorotan?
Free float adalah porsi saham yang benar-benar beredar di publik. Semakin besar angkanya, semakin mudah saham diperdagangkan. Risiko manipulasi harga juga makin kecil.
Indonesia sebelumnya masih di kisaran bawah. Dengan dorongan ke 15%, regulator ingin saham-saham besar RI makin layak masuk radar investor institusi global.
Singkatnya, pasar kita mau naik kelas.
IHSG Turun, tapi Ada Sinyal Menarik
Di hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG memang ditutup turun 4,88% ke 7.922,73. Kelihatannya serem. Tapi ada detail yang sering terlewat.
Setelah empat hari berturut-turut asing jualan, hari ini justru terjadi net buy Rp 654,9 miliar. Artinya, investor global mulai masuk lagi meski pasar lagi koreksi.
Baca juga: Empat Bos OJK Mundur Sehari, Pasar Modal RI Lagi Kenapa?
Penurunan harga juga lebih banyak terjadi pada saham yang sebelumnya sudah naik tinggi. Ini ciri klasik rebalancing portofolio. Bukan tanda fundamental ekonomi runtuh.
Menariknya, saham dengan kinerja bisnis solid justru menguat.
Tekanan Global, Bukan Lokal Saja
Pelemahan pasar hari itu juga terjadi di banyak negara Asia. Indeks Korea Selatan turun tajam. Bursa Hong Kong, India, Singapura, sampai China ikut melemah. Harga emas pun turun.
Jadi ini bukan drama Indonesia sendirian. Pasar global memang lagi sensitif.
Regulator Minta Investor Tetap Tenang
OJK menegaskan perdagangan tetap berjalan teratur dan diawasi ketat bersama SRO seperti Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia.
Pesannya simpel, jangan panik. Volatilitas itu bagian dari pasar. Yang penting fondasi dibenahi dan itulah yang sekarang lagi dikerjakan regulator.
Baca juga: Ada Apa dengan Pasar Modal Indonesia di Mata Dunia?
Langkah percepatan free float dan transparansi ini bisa jadi tiket penting agar pasar modal Indonesia kembali dipercaya indeks global. Bukan cuma demi gengsi. Tapi demi aliran modal jangka panjang. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.