Merokok Tanpa Keluhan Bukan Berarti Paru-paru Aman

Merokok sering terasa biasa saja. Tapi paru-paru bisa menyimpan cerita yang berbeda. Foto: Ilustrasi/ Cottonbro/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.idMerasa sehat sering jadi pembenaran. Badan kuat. Napas terasa normal. Aktivitas lancar. Tapi bagi perokok, kondisi itu bisa menipu.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, paru-paru bisa mengalami kerusakan tanpa gejala awal yang jelas. Bahkan saat hasil rontgen dada terlihat bersih.

Peringatan itu ia sampaikan lewat unggahan di akun Instagram resminya. Pesannya sederhana, tapi serius: jangan menunggu sakit untuk mulai memeriksa paru-paru.

Rontgen Bersih, Masalah Bisa Tetap Ada

Menurut Budi, banyak perokok merasa aman karena hasil foto dada atau X-ray terlihat normal.
Padahal, gangguan di saluran napas sering tidak muncul di pemeriksaan tersebut.

“Sudah pernah coba alat spirometri?” tulis Budi dalam unggahannya.
Tes ini, kata dia, mampu mendeteksi sumbatan saluran napas yang tidak terlihat di rontgen biasa.

Baca juga; Kanker Paru di Era Polusi, Non-Perokok pun Tak Lagi Aman

Spirometri mengukur volume udara yang bisa dihirup dan diembuskan paru-paru. Juga mengukur seberapa cepat udara keluar saat bernapas.

Angka di Bawah 80 Persen, Alarm Dini

Budi juga membagikan pengalamannya menjalani tes spirometri di rumah sakit. Hasilnya 97 persen, masuk kategori normal.

Batas aman ada di atas 80 persen. Jika hasilnya di bawah itu, risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) mulai mengintai.

Unggahan video Menteri Kesehatan yang menjadi rujukan peringatan ini dapat dilihat melalui foto berikut.

PPOK bukan penyakit ringan. Kerusakan paru bersifat permanen. Penderitanya bisa mengalami sesak napas jangka panjang dan bergantung pada inhaler seumur hidup.

Biayanya pun tidak kecil. Sekitar Rp600 ribu per bulan hanya untuk obat inhaler.

Merokok Hari Ini, Bayar Mahal Nanti

Budi menyampaikan pesannya dengan bahasa lugas. Uang yang dikeluarkan untuk rokok, ujungnya bisa berubah jadi biaya pengobatan.

“Sudah keluar uang buat beli penyakit, nanti harus keluar uang lagi buat beli inhaler,” tulisnya.

Baca juga: 54 Juta Orang Rentan Tak Terlindungi BPJS, Data Sosial Dipertanyakan

Ia bahkan membandingkan secara langsung. Uang Rp30 ribu untuk rokok bisa dialihkan ke telur. Ada protein. Gizi keluarga terjaga. Tubuh lebih sehat. Dompet tidak terbebani biaya obat bulanan.

Merasa Sehat Justru Paling Berbahaya

Fenomena “merasa sehat” kerap membuat perokok menunda pemeriksaan medis. Tidak batuk. Tidak sesak. Tidak ada keluhan.

Padahal, di fase tanpa gejala itulah deteksi dini paling penting. Tes spirometri bisa membantu menemukan masalah sebelum kerusakan paru menjadi permanen.

Pesan akhirnya tegas. Berhenti merokok jauh lebih murah daripada mengobati dampaknya.
Dan menjaga paru-paru berarti menjaga kualitas hidup diri sendiri dan keluarga. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *