
JAKARTA, mulamula.id – Tidak semua yang kita lihat hari ini adalah berita.
Sebagian adalah opini. Sebagian lagi potongan informasi tanpa konteks. Bahkan tidak sedikit yang sumbernya tidak jelas.
Namun semuanya datang dengan kecepatan yang sama, langsung ke layar kita.
Di titik inilah masalah muncul. Bukan semata karena dunia makin buruk, tetapi karena kita menerima terlalu banyak informasi sekaligus, tanpa sempat memprosesnya. Bagi banyak orang, terutama Gen Z yang hidup di tengah arus konten tanpa henti, kondisi ini memicu kecemasan yang sulit dijelaskan.
Scroll sebentar, pikiran terasa penuh.
Tutup aplikasi, rasa gelisah masih tertinggal.
Fenomena ini sering disebut doomscrolling, kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berulang tanpa sadar. Menurut American Psychological Association, paparan informasi negatif yang terus-menerus dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional.
Otak Mencari Kepastian
Masalahnya bukan hanya pada isi informasi, tetapi juga pada cara otak kita bekerja.
Dalam perspektif Neuroscience, ketidakpastian dipersepsikan sebagai ancaman. Otak secara alami berusaha mencari pola dan kepastian untuk merasa aman. Ketika informasi yang masuk justru tidak utuh atau tidak jelas, sistem stres akan aktif.
Artinya, semakin banyak informasi yang tidak pasti kita konsumsi, semakin besar pula tekanan yang dirasakan.
Baca juga: Aksara: Kita Tak Kehilangan Informasi, Kita Kehilangan Kejernihan
Ini bukan soal lemah atau tidak.
Ini soal bagaimana manusia dirancang.
Saat Informasi Jadi Kebisingan
Di era media sosial, batas antara berita, opini, dan spekulasi semakin kabur. Konten yang muncul di timeline belum tentu terverifikasi, sering dipotong dari konteks, dan tidak jarang dirancang untuk memicu emosi, bukan memberi pemahaman.
World Health Organization menyebut kondisi ini sebagai infodemic, banjir informasi, termasuk yang tidak akurat, yang menyebar lebih cepat dari kemampuan publik untuk memverifikasi.
Di titik ini, informasi tidak lagi menjadi alat untuk memahami dunia.
Tapi, berubah menjadi kebisingan yang memenuhi pikiran.
Sebagian besar kecemasan akibat “berita” hari ini sebenarnya dipicu oleh informasi yang tidak terverifikasi dan dikonsumsi tanpa batas.
Mengatur, Bukan Menghindari
Solusinya bukan berhenti mengikuti berita. Yang dibutuhkan adalah mengatur cara kita berinteraksi dengan informasi.
Membatasi waktu konsumsi berita menjadi langkah awal. Cukup satu atau dua kali sehari dari sumber yang jelas dan kredibel. Bukan setiap menit.
Di saat yang sama, penting untuk kembali pada hal-hal yang bisa dikontrol. Rutinitas sederhana seperti tidur cukup, makan teratur, atau berjalan kaki dapat menjadi jangkar di tengah ketidakpastian.
Baca juga: ‘Microtrip’ Internasional Jadi Tren, Gen Z Liburan Tanpa Cuti Panjang
Menjaga koneksi dengan orang lain juga menjadi kunci. Berbagi cerita sering kali jauh lebih membantu daripada memproses semuanya sendirian.
Dan yang tidak kalah penting, melatih diri untuk kembali ke momen sekarang. Napas yang disadari, tubuh yang dirasakan, dan pikiran yang ditarik kembali dari kekhawatiran yang belum tentu terjadi.
Belajar dari Ketidakpastian
Menariknya, pelajaran tentang ketahanan mental justru banyak datang dari mereka yang pernah hidup dalam situasi paling tidak pasti, seperti pengungsi, penyintas konflik, hingga korban penyanderaan.
Mereka tidak mencoba memahami semua kemungkinan sekaligus.
Mereka fokus pada satu hal, hari ini.
Baca juga: Di Tengah Riuh Informasi, Pers Masih Dibutuhkan
Bukan besok.
Bukan semua skenario terburuk.
Hari ini.
Pendekatan sederhana ini menjadi dasar dari apa yang dikenal sebagai psychological resilience, kemampuan untuk tetap berfungsi meski situasi tidak pasti.
Tidak Harus Tenang
Banyak orang merasa harus selalu terlihat baik-baik saja.
Padahal, kecemasan adalah respons yang wajar.
Yang penting bukan menghilangkannya sepenuhnya, tetapi tetap bisa menjalani hidup di tengah perasaan itu.
Kita mungkin tidak bisa mengendalikan semua informasi yang datang.
Namun kita bisa memilih mana yang layak dipercaya, dan mana yang tidak perlu memenuhi pikiran.
Mengelola Kecemasan
Mengelola kecemasan di era digital bukan tentang menjauh dari dunia, tetapi tentang menjernihkan cara kita melihatnya. Membatasi paparan, memilih sumber yang kredibel, dan menerima bahwa tidak semua hal harus kita pahami sekaligus.
Karena tidak semua yang muncul di layar kita adalah berita.
Dan tidak semuanya layak membuat kita cemas. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.