Jemaah Lansia Tak Lagi Menginap di Muzdalifah, Skema Haji Indonesia Mulai Berubah

Petugas membantu jemaah lansia bersiap menuju fase Armuzna di Makkah. Tahun ini, sebagian jemaah risiko tinggi akan langsung diberangkatkan ke Mina tanpa mabit di Muzdalifah melalui skema murur. Foto: Kementerian Haji dan Umrah.

MAKKAH, mulamula.idSkema penyelenggaraan haji Indonesia mulai berubah. Tahun ini, sebagian jemaah lansia dan berisiko tinggi tidak lagi harus bermalam di Muzdalifah saat puncak ibadah haji berlangsung.

Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sedang mematangkan skema murur untuk fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Lewat pola ini, jemaah lansia, sakit, memiliki komorbid, hingga pendampingnya akan langsung dibawa menuju Mina setelah wukuf di Arafah tanpa turun di Muzdalifah.

Langkah ini bukan sekadar perubahan teknis perjalanan ibadah. Di baliknya, ada upaya besar mengurangi risiko kesehatan dan kepadatan ekstrem yang selama ini menjadi tantangan terbesar saat puncak haji.

Baca juga: Daftar Haji Umur 45, Berangkatnya Bisa Saat Usia 71 Tahun

Skema murur adalah pola pergerakan jemaah haji yang memungkinkan jemaah hanya melintas di Muzdalifah tanpa turun untuk mabit atau bermalam.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, mengatakan keterbatasan ruang di Muzdalifah menjadi salah satu alasan utama kebijakan itu diterapkan.

“Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” ujar Puji di Makkah.

Armuzna Mulai Fokus ke Keselamatan

Dalam beberapa tahun terakhir, fase Armuzna menjadi titik paling berat dalam penyelenggaraan haji dunia. Kepadatan manusia, cuaca panas ekstrem, hingga kelelahan fisik membuat fase ini menjadi area dengan risiko kesehatan tertinggi.

Indonesia sendiri kini menghadapi tantangan baru. Masa tunggu haji yang sangat panjang membuat usia rata-rata jemaah semakin tua ketika berangkat ke Tanah Suci.

Artinya, tekanan layanan kesehatan dan mobilitas saat Armuzna ikut meningkat.

Baca juga: Madinah Mulai Kosong, Fokus Haji Kini Bergeser ke Fase Paling Berat

Karena itu, pendekatan penyelenggaraan haji mulai bergeser. Tidak lagi hanya fokus pada kelancaran ibadah, tetapi juga mitigasi risiko kesehatan dan keselamatan jemaah.

Lewat skema murur, jemaah tidak perlu turun di Muzdalifah maupun menunggu hingga lewat tengah malam untuk melanjutkan perjalanan menuju Mina.

Sementara jemaah yang sehat tetap akan menjalani mabit seperti biasa sebelum diberangkatkan menuju Mina.

Petugas mendampingi jemaah lansia pengguna kursi roda menjelang puncak ibadah haji di Arab Saudi. Layanan khusus disiapkan untuk mengurangi risiko kesehatan selama fase Armuzna. Foto: Kementerian Haji dan Umrah.
Belajar dari Kepadatan Tahun-tahun Sebelumnya

PPIH tampaknya tidak ingin persoalan klasik saat Armuzna kembali terjadi. Salah satu yang paling sering muncul adalah jemaah tertahan terlalu lama di Muzdalifah akibat kepadatan bus dan arus manusia.

Dalam kondisi tertentu, sebagian jemaah bahkan pernah terpaksa berjalan kaki dalam jarak cukup jauh karena kemacetan total.

Situasi itu sangat berisiko bagi lansia dan jemaah dengan penyakit bawaan.

Karena itu, tahun ini PPIH mulai memperkuat pendekatan berbasis risiko.

Koordinasi dilakukan hingga tingkat ketua kloter, tenaga kesehatan, pembimbing ibadah, sampai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

Baca juga: Tempat yang Paling Diburu Jemaah Haji Ternyata Titik-titik Doa Ini

Selain itu, petugas juga akan ditempatkan lebih awal di Mina untuk membantu jemaah menemukan tenda dan mengurangi potensi tersesat di tengah lautan manusia.

“Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jamaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik,” kata Puji.

Safari Wukuf Tetap Disiapkan

Selain murur, pemerintah tetap menyiapkan layanan safari wukuf bagi jemaah lansia dan disabilitas dengan kondisi khusus.

Tahun ini jumlah peserta safari wukuf diperkirakan mencapai sekitar 300 hingga 400 orang.

Jumlah itu diseleksi melalui pemeriksaan kesehatan yang disebut lebih ketat dibanding musim haji sebelumnya.

Baca juga: Haji Modern Mulai Bertumpu pada Fikih Kemudahan

PPIH juga mulai mengingatkan jemaah agar menjaga energi sebelum puncak ibadah dimulai.

Cuaca panas di Arab Saudi dan aktivitas fisik yang terlalu berat sebelum wukuf dinilai bisa meningkatkan risiko kelelahan saat fase paling penting ibadah haji berlangsung.

“Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya,” ujar Puji.

Perubahan pola layanan ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan haji Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih adaptif. Bukan hanya mengurus keberangkatan jutaan orang, tetapi juga membaca perubahan profil kesehatan dan usia jemaah Indonesia yang terus berubah dari tahun ke tahun. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *