
JAKARTA, mulamula.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan satu prinsip yang ingin ia jaga di tengah dinamika politik, perubahan kekuasaan harus tetap berjalan lewat mekanisme demokrasi.
Pesan itu ia sampaikan saat rapat kerja Kabinet Merah Putih di Istana, Rabu (8/4/2026).
Nada pesannya tegas. Demokrasi tidak boleh dilompati.
Demokrasi Tidak Bisa Disingkat
Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia sudah memiliki jalur resmi untuk mengganti pemerintahan. Jalur itu adalah pemilihan umum.
Jika pemerintah dinilai tidak baik, rakyat bisa mengganti. Tapi, caranya harus tetap melalui sistem. Bukan tekanan jalanan. Bukan manuver yang berpotensi mengguncang stabilitas.
Baginya, pemilu adalah satu-satunya jalan yang sah sekaligus aman untuk memastikan transisi kekuasaan tetap terkendali.
Sejarah Jadi Pengingat
Untuk memperkuat pesannya, Prabowo menyinggung pengalaman Indonesia dalam pergantian kepemimpinan nasional.
Ia menyebut bagaimana kekuasaan pernah berganti tanpa konflik terbuka, dari era Soekarno ke Soeharto, hingga transisi pada masa Abdurrahman Wahid.
Baca juga: Biaya Haji Turun Rp 2 Juta, Saat Avtur Justru Melonjak
Dalam narasi yang ia bangun, pergantian itu tetap berlangsung melalui proses, bukan kekerasan.
Pesannya jelas, stabilitas politik bukan kebetulan, tapi hasil dari sistem yang dijaga.
Kritik Bukan Ancaman
Di tengah sorotan publik, Prabowo juga mengakui pemerintahannya tidak lepas dari kritik. Namun, ia memilih melihat kritik sebagai bentuk peringatan. Sebagai alarm.
Bahkan ketika kritik itu terasa keras, ia menganggapnya sebagai pengingat agar pemerintah tetap waspada dan tidak lengah.
Pendekatan ini menunjukkan upaya menjaga keseimbangan, membuka ruang kritik, tapi tetap dalam koridor yang terkendali.
Klaim Kinerja di Tengah Tekanan Global
Prabowo juga menyinggung capaian pemerintahannya dalam satu setengah tahun terakhir.
Ia menyebut ada sejumlah tonggak prestasi yang telah dicapai, meski tidak dirinci secara detail.
Baca juga: Prabowo-Megawati Bertemu di Istana, Sinyal Politik Adem Jelang Lebaran
Pernyataan ini muncul di tengah situasi global yang tidak stabil. Konflik dan perang di berbagai wilayah dunia, menurutnya, ikut memicu ketidakpastian yang bisa berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.
Namun, ia menilai arah pemerintahan masih bisa dikendalikan.
Ini menjadi bagian dari narasi optimisme yang coba ia bangun di tengah tekanan eksternal.
Menjaga Arah Demokrasi
Pernyataan Prabowo tidak berdiri sendiri. Statement ini hadir di tengah percakapan publik yang semakin kritis terhadap pemerintah.
Baca juga: Prabowo Singgung Pilpres 2029, “Kalau Rakyat Pilih Lagi, Apa Salah?”
Pesan utamanya sederhana, tapi strategis, jika ingin perubahan, gunakan mekanisme yang ada. Demokrasi bukan hanya soal memilih. Tapi juga soal bagaimana perubahan itu dilakukan, secara damai, teratur, dan tetap dalam sistem. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.