Minggu Malam Ini, Fenomena Langka “Gerhana” Bintang Terjadi di Langit Indonesia

Siluet pengamat menggunakan teleskop saat langit malam dipenuhi bintang. Fenomena okultasi asteroid membuat salah satu bintang dapat “menghilang” sesaat dari pandangan. Foto: Thirdman/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Langit malam akhir pekan ini tidak akan biasa. Sebuah fenomena astronomi langka akan terjadi dan bisa disaksikan dari Indonesia. Bintang di langit akan “menghilang” sesaat, bukan karena awan, melainkan tertutup asteroid.

Peristiwa ini dikenal sebagai okultasi asteroid. Banyak orang menyebutnya sebagai “gerhana” bintang karena secara visual mirip gerhana, meski mekanismenya berbeda. Fenomena ini diperkirakan terjadi pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 19.41 WIB, berdasarkan penjelasan dari Observatorium Bosscha.

intang “Padam” Sesaat

Okultasi terjadi saat satu objek langit menutupi objek lain dari sudut pandang pengamat di Bumi. Dalam peristiwa ini, asteroid akan melintas tepat di depan sebuah bintang.

Bintang yang tertutup adalah HIP 35933 (HD 58050), sementara asteroid yang melintas dikenal sebagai (1201) Strenua.

Baca juga: Gerhana Bulan Bersamaan Harvest Moon, Apa yang Terjadi?

Saat peristiwa berlangsung, cahaya bintang akan meredup, bahkan bisa hilang total selama beberapa detik. Fenomenanya singkat, tetapi cukup untuk memberikan data penting bagi para peneliti.

Data dari Detik yang Singkat

Okultasi bukan sekadar tontonan langit. Peristiwa ini menjadi metode penting dalam penelitian asteroid.

Objek seperti Strenua sulit diamati secara langsung karena ukurannya relatif kecil dan cahayanya redup. Melalui okultasi, ilmuwan dapat menghitung ukuran, bentuk, hingga karakteristik fisik asteroid dengan lebih presisi.

Caranya sederhana tapi efektif. Peneliti mencatat kapan cahaya bintang mulai menghilang dan kapan kembali muncul. Data dari berbagai lokasi kemudian digabungkan untuk merekonstruksi lintasan bayangan asteroid.

Hamparan bintang di langit malam menjadi objek pengamatan saat fenomena okultasi terjadi, ketika cahaya sebuah bintang bisa menghilang sesaat akibat tertutup asteroid. Foto: Yuting Gao/ Pexels.
Kolaborasi Pengamatan Nasional

Untuk mengamati fenomena ini, Observatorium Bosscha menginisiasi kampanye pengamatan nasional. Total ada 44 titik pengamatan yang melibatkan 34 institusi, komunitas, dan kontributor individu di seluruh Indonesia.

Tim pengamat akan disebar ke sejumlah lokasi strategis. Lembang menjadi pusat utama, mencakup kawasan Observatorium Bosscha dan Jayagiri. Pengamatan juga dilakukan di Ciater, Subang, serta Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Bulan Merah Terakhir Sebelum 2029

Kupang dipilih karena memiliki peluang langit cerah yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan kemungkinan keberhasilan observasi.

Tidak Mudah, tapi Bisa Dicoba

Fenomena ini secara teoritis bisa diamati dari Indonesia. Namun, tidak semudah menyaksikan gerhana Bulan atau Matahari.

Durasi yang sangat singkat membuat pengamatan membutuhkan persiapan. Teleskop atau alat bantu optik sangat disarankan. Selain itu, lokasi dengan minim polusi cahaya dan waktu yang presisi menjadi faktor penentu.

Baca juga: Foto Pertama Artemis II Ungkap Sisi Bulan yang Tak Pernah Dilihat Manusia

Tanpa persiapan, momen ini bisa terlewat dalam hitungan detik.

Langit yang Selalu Menyimpan Cerita

Fenomena seperti ini tidak terjadi setiap saat di lokasi yang sama. Itu yang membuatnya istimewa.

Lebih dari sekadar peristiwa visual, okultasi menjadi cara manusia memahami objek kecil di tata surya dengan metode yang relatif sederhana.

Dan pada Minggu malam ini, langit Indonesia kembali membuka kesempatan itu—meski hanya dalam sekejap. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *