Titanium Baru Buatan BRIN Disebut Bisa Bikin Implan Gigi Lebih Awet dan Aman

Model implan gigi berbasis titanium yang dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan korosi dan stabilitas jangka panjang di lingkungan rongga mulut. Foto: Cottonbro/ Pexels.

JAKARTA, mulamula.id Implan gigi bukan sekadar soal estetika. Di balik senyum yang terlihat rapi, ada tantangan besar yang harus dihadapi material logam di dalam mulut manusia.

Rongga mulut ternyata termasuk lingkungan yang cukup ekstrem bagi implan. Setiap hari, logam harus berhadapan dengan saliva, fluoride dari pasta gigi, obat kumur, hingga antibiotik. Semua itu dapat memicu korosi perlahan dan memengaruhi ketahanan implan dalam jangka panjang.

Karena itu, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mulai mengembangkan material baru berbasis titanium yang diklaim lebih tahan korosi dan lebih aman digunakan untuk implan gigi.

Riset ini dilakukan oleh tim dari Pusat Riset Metalurgi BRIN yang dipimpin Cahya Sutowo bersama sejumlah peneliti lainnya. Mereka mengembangkan paduan titanium bebas vanadium bernama Ti-6Al-6Mo yang dilapisi hydroxyapatite menggunakan teknologi high-velocity oxygen fuel atau HVOF.

Secara sederhana, hydroxyapatite adalah material bioaktif yang memiliki struktur mirip tulang manusia. Material ini sering digunakan untuk membantu proses penyatuan implan dengan tulang rahang.

Implan gigi adalah perangkat medis yang ditanam ke tulang rahang untuk menggantikan akar gigi yang hilang. Karena berada di dalam tubuh dalam waktu lama, materialnya harus tahan korosi, tidak beracun, dan mampu menyatu dengan jaringan biologis.

Risiko di Balik Titanium Lama

Selama ini, titanium memang menjadi “bintang utama” dalam dunia implan medis. Material ini dikenal kuat, ringan, dan relatif cocok dengan tubuh manusia.

Namun, tidak semua jenis titanium dianggap ideal untuk penggunaan jangka panjang.

Paduan titanium konvensional seperti Ti-6Al-4V masih mengandung vanadium. Dalam sejumlah studi, unsur ini kerap menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan efek toksik jika terjadi pelepasan ion logam dalam waktu lama.

Baca juga: Clear Smile Ultra, Karya Dosen Indonesia untuk Solusi Gigi Tanpa Listrik

Tim BRIN mencoba mencari alternatif yang lebih aman melalui titanium bebas vanadium.

“Kami mengembangkan pelapisan hydroxyapatite pada titanium agar ketahanan korosi dan sifat biologisnya meningkat,” kata Cahya Sutowo dalam wawancara bersama tim Humas BRIN.

Pendekatan itu tidak hanya bertujuan memperpanjang usia implan, tetapi juga meningkatkan peluang keberhasilan penyatuan implan dengan tulang atau osseointegrasi.

Teknologi pelapisan biomaterial membantu implan gigi lebih mudah menyatu dengan tulang sekaligus meningkatkan daya tahan material di dalam tubuh manusia. Foto: Cottonbro/ Pexels.
Korosi Turun Hingga 70 Persen

Salah satu temuan paling menarik dari riset ini ada pada hasil pengujian korosi.

Lapisan hydroxyapatite yang diaplikasikan menggunakan metode HVOF disebut mampu menurunkan laju korosi hingga sekitar 70 persen dibanding material tanpa pelapisan.

Teknologi HVOF sendiri bekerja dengan menyemprotkan material pelapis berkecepatan sangat tinggi sehingga menghasilkan lapisan lebih padat, kuat melekat, dan minim pori.

Efeknya, material menjadi lebih stabil saat berada di lingkungan rongga mulut yang kompleks.

Baca juga: Bekukan Tumor Tanpa Operasi, Australia Uji Terapi Kanker Super Presisi

Peneliti juga menemukan bahwa permukaan material menjadi lebih hidrofilik atau lebih mudah berinteraksi dengan cairan biologis. Kondisi ini penting karena dapat membantu adhesi sel dan mempercepat proses penyatuan implan dengan tulang.

Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Physica Scripta tahun 2025 dengan judul Enhanced Multi-Environment Corrosion Resistance of HVOF-Sprayed Hydroxyapatite Coatings on Ti-6Al-6Mo Alloy for Dental Implants.

Bukan Sekadar Gigi

Riset biomaterial seperti ini sebenarnya punya dampak yang lebih luas daripada sekadar urusan kedokteran gigi.

Indonesia masih cukup bergantung pada alat kesehatan impor, termasuk untuk produk implan medis. Padahal kebutuhan alat kesehatan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan tren layanan kesehatan modern.

Pengembangan biomaterial lokal dapat menjadi langkah penting menuju kemandirian industri alat kesehatan nasional.

Baca juga: Alat Pacu Jantung Sekecil Beras Ini Bisa Larut dalam Tubuh

Selain itu, penguasaan teknologi material medis juga membuka peluang industri bernilai tinggi di masa depan. Mulai dari implan ortopedi, perangkat tulang, hingga biomaterial untuk rekayasa jaringan.

BRIN melalui laman resminya juga menyebut pengembangan biomaterial medis membutuhkan integrasi antara riset material, teknologi manufaktur, dan kebutuhan klinis agar dapat benar-benar digunakan dalam dunia kesehatan nyata.

Ke depan, penelitian ini masih akan berlanjut pada pengujian biologis untuk memastikan keamanan dan efektivitas klinis sebelum benar-benar dapat digunakan secara luas pada manusia.

Namun, satu hal mulai terlihat jelas. Masa depan alat kesehatan tidak lagi hanya ditentukan dokter dan rumah sakit, tetapi juga oleh sejauh mana teknologi material mampu bertahan di dalam tubuh manusia selama bertahun-tahun. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *