Kerja Tiap Hari, Kenapa Hidup Makin Susah Dikejar?

Pengunjung menikmati makanan di warteg. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari menentukan ruang yang tersisa untuk menabung dan menyiapkan masa depan. Foto: Rakhmat Suwandi/ Pexels.

Pengeluaran bertambah, sementara ruang untuk menabung terasa sempit. Survei terbaru membuka pertanyaan tentang seberapa jauh penghasilan mampu menopang kehidupan.

GAJI masuk, lalu segera terbagi. Bayar kos, ongkos kerja, makan, tagihan, dan kiriman untuk keluarga. Belum sempat menyisihkan dana darurat, kalender masih menyisakan banyak tanggal.

Bagi pekerja muda yang menghadapi situasi itu, nasihat mengurangi jajan mungkin terasa kurang menjawab persoalan. Mengatur pengeluaran memang perlu. Namun, seberapa banyak yang bisa dihemat ketika kebutuhan rutin sudah mengambil sebagian besar penghasilan?

Survei terbaru Poltracking Indonesia memberikan konteks atas kegelisahan tersebut. Sebanyak 65,3 persen responden menyatakan pengeluaran mereka lebih banyak dalam setahun terakhir. Sementara itu, 58,6 persen menilai harga kebutuhan pokok dalam sebulan terakhir tidak terjangkau.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 1.220 responden pada 30 September-7 Oktober 2026, dengan margin kesalahan sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Temuan ini menggambarkan persepsi responden secara umum, bukan khusus anak muda.

Penghasilan dan Pengeluaran Perlu Dibaca Bersama

Gambarannya tidak sepenuhnya muram. Dalam rilis yang sama, 53,5 persen responden menilai kondisi penghasilan rumah tangganya baik. Namun, penilaian positif terhadap penghasilan hadir bersamaan dengan keluhan tentang besarnya pengeluaran.

Dua temuan itu tidak bisa langsung dipakai menghitung selisih kenaikan pendapatan dan biaya hidup. Survei persepsi juga tidak menggantikan pencatatan pengeluaran rumah tangga. Meski begitu, hasilnya memberi alasan untuk memeriksa kemampuan belanja lebih dekat.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda menyoroti persoalan tersebut saat memaparkan survei, Senin (19/10/2026).

“Ternyata pemasukannya meningkat sedikit, sementara pengeluarannya ternyata lebih banyak,” ujar Hanta.

Baca juga: Uang Cepat Habis? Bisa Jadi Hidup Makin Mahal

Untuk pekerja muda, pertanyaan praktisnya sederhana. Setelah kebutuhan wajib dibayar, berapa yang tersisa?

Dari sisa itulah dana darurat dibangun, biaya kursus disiapkan, atau rencana pindah ke tempat tinggal yang lebih layak mulai dihitung. Ketika sisanya tipis, rencana masa depan menjadi hal pertama yang ditunda.

Inflasi Terjaga, Dompet Punya Pengalaman Berbeda

Pemerintah melihat kondisi harga dari ukuran yang lebih luas. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung pada 1 Oktober menyatakan inflasi tahunan September sebesar 3,28 persen masih berada dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen.

Ia menilai kondisi tersebut belum terlalu berdampak terhadap daya beli dan keputusan belanja masyarakat. BPS mencatat inflasi bulanan September sebesar 0,30 persen.

Baca juga: Upah Naik 9 Persen, Hidup Ikut Lebih Ringan?

Penilaian pemerintah dan keluhan rumah tangga perlu dibaca sesuai ukurannya. Inflasi nasional merangkum perubahan harga dalam keranjang konsumsi. Pengalaman setiap orang bergantung pada barang dan jasa yang dibeli, tempat tinggal, serta penghasilannya.

Pekerja yang sebagian besar pendapatannya habis untuk kebutuhan wajib memiliki ruang penyesuaian lebih sempit. Kenaikan pengeluaran yang terlihat kecil tetap dapat mengurangi uang yang semula disiapkan untuk menabung.

Karena itu, inflasi dalam sasaran belum menjawab seluruh pertanyaan tentang kemampuan rumah tangga membangun keamanan finansial.

Hemat Punya Batas

Mencatat pengeluaran membantu menemukan kebocoran. Membandingkan harga dan menunda pembelian juga bisa memberi ruang bernapas. Namun, penghematan memiliki batas ketika menyentuh makan, tempat tinggal, dan perjalanan menuju pekerjaan.

Di titik itu, pembicaraan perlu menjangkau kualitas pekerjaan, penghasilan, keterjangkauan pangan, serta layanan transportasi dan hunian.

Baca juga: BSU Rp900 Ribu, Seberapa Membantu Kantong Pekerja?

Dalam evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran, Poltracking menemukan mahalnya kebutuhan pokok menjadi persoalan yang paling banyak disebut perlu segera diselesaikan, yakni oleh 45,9 persen responden.

Pesannya jelas. Ukuran kesejahteraan perlu sampai pada kehidupan setelah tagihan dibayar.

Bagi anak muda yang bekerja setiap hari, kemajuan terasa ketika penghasilan memberi kesempatan untuk menyiapkan hari esok, tanpa terus-menerus mengorbankan kebutuhan hari ini. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *