BBM Sulit Didapat, Sekolah di Bali Beralih Daring

Antrean pengendara sepeda motor memadati SPBU Latu, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (13/10/2026). Foto:infoabiansemal.

Antrean BBM merembet ke kegiatan belajar dan bekerja. Pemulihan pasokan perlu terasa sampai ke SPBU, tempat warga menggantungkan mobilitas sehari-hari.

BERANGKAT sekolah membutuhkan lebih dari seragam dan buku. Bagi keluarga yang mengandalkan kendaraan bermotor, perjalanan juga bergantung pada bensin yang tersedia.

Di Bali, persoalan itu sampai mengubah cara belajar. Pemerintah provinsi memberlakukan pembelajaran daring bagi satuan pendidikan negeri dan swasta pada 15-17 Oktober 2026, menyusul antrean panjang bahan bakar minyak atau BBM. Kebijakan tersebut mencakup kegiatan sekolah dan perkuliahan.

Gangguan di SPBU pun masuk ke ruang kelas. Pelajar dan mahasiswa harus menyesuaikan kegiatan, sementara pemerintah serta Pertamina berupaya memperlancar penyaluran.

Peristiwa ini menunjukkan betapa dekatnya urusan energi dengan keseharian anak muda. Ketersediaan BBM ikut menentukan apakah perjalanan menuju sekolah, kampus, dan tempat kerja dapat berlangsung seperti biasa.

Belajar dan Bekerja Ikut Menyesuaikan

Kebijakan pembelajaran daring tertuang dalam surat Pemprov Bali tertanggal 14 Oktober 2026. Sekolah diminta tetap menjaga efektivitas pembelajaran selama pelaksanaannya. Artinya, kegiatan belajar tetap berjalan meski murid dan guru mengikutinya dari lokasi berbeda.

Pemprov Bali juga mengatur bekerja dari rumah atau work from home pada 15-17 Oktober. Sekretaris Daerah Bali Dewa Made Indra menjelaskan, penyesuaian itu bertujuan mendukung kelancaran penyediaan dan distribusi BBM oleh Pertamina.

Baca juga; Inflasi Menanjak, Tekanan Baru Datang dari BBM

Namun, pelayanan publik yang membutuhkan interaksi langsung tetap harus berjalan secara tatap muka. Kebijakan bekerja dari rumah memiliki pengecualian agar layanan kepada masyarakat tetap tersedia.

Di sinilah batas solusi sementara tersebut. Sebagian kegiatan bisa berpindah ke layar. Pekerjaan yang mengharuskan seseorang hadir secara fisik tetap membutuhkan perjalanan.

Bagi mereka, kepastian memperoleh bahan bakar menjadi kebutuhan yang sulit ditunda.

Stok Nasional dan Bensin di SPBU

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan stok BBM nasional berada pada kisaran 16-18 hari. Seusai rapat di Istana pada 14 Oktober, ia menduga antrean di Bali berkaitan dengan kendala penyaluran. Saat itu, ia masih menunggu laporan lengkap dari Pertamina dan pejabat terkait.

Pernyataan tersebut perlu dibaca dengan cermat. Stok nasional menggambarkan persediaan dalam cakupan luas. Sementara itu, warga membutuhkan BBM yang tersedia di SPBU ketika mereka datang.

Baca juga: Subsidi BBM Salah Sasaran, APBN Ikut Tertekan

Bahan bakar masih harus melewati proses pengiriman, penerimaan di terminal, dan pengangkutan menuju SPBU. Karena itu, angka persediaan nasional saja belum cukup untuk menggambarkan kemudahan warga mengisi tangki.

Pertamina Patra Niaga menyatakan mendatangkan tambahan 57,9 juta liter BBM secara bertahap pada 14-17 Oktober. Pasokan itu terdiri atas 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax melalui terminal di Manggis dan Sanggaran. Angka tersebut merupakan total pasokan dalam rentang pengiriman, sehingga tidak boleh dibaca sebagai seluruhnya sudah tersedia di SPBU pada satu waktu.

Pemulihan Harus Terasa oleh Warga

Dalam keterangan 15 Oktober, Pertamina menyebut terminal dan armada distribusi dioperasikan selama 24 jam. Perusahaan juga menyatakan 66 SPBU di Denpasar dan Badung beroperasi sepanjang hari untuk memperluas waktu pelayanan.

Langkah itu perlu diikuti hasil yang dapat dirasakan: pasokan lebih pasti, antrean berkurang, dan perjalanan sehari-hari kembali mudah direncanakan.

Baca juga: Tak Perlu BBM, Sulawesi hingga Timor Bisa Hidup dari Energi Alam

Penyebab utama antrean juga masih perlu ditelusuri. Ombudsman RI telah meminta perwakilannya di Bali melakukan kajian cepat. Lembaga tersebut belum menyimpulkan penyebab utama maupun memastikan besaran potensi kerugian ekonominya.

Bali memberi pelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gangguan distribusi energi dapat menjalar sampai ke jadwal belajar dan bekerja.

Bagi warga, ukuran pemulihannya sederhana: bisa mengisi bensin dengan wajar, lalu melanjutkan aktivitas tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengantre. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *