
AI makin canggih. Tapi ada satu hal yang sering luput dibahas, listrik.
Ledakan kecerdasan buatan dan data center membuat kebutuhan listrik melonjak. Di Amerika Serikat, perusahaan energi MN8 Energy baru saja meneken kontrak jangka panjang dengan Meta Platforms untuk memasok 100 persen listrik dari proyek surya 80 megawatt (MW) di Pennsylvania.
Listrik itu akan masuk ke jaringan PJM Interconnection, salah satu pasar listrik terbesar di AS.
Angkanya mungkin terdengar biasa. Tapi, konteksnya besar.
AI Butuh Listrik Besar
Data center dan infrastruktur AI bekerja 24 jam nonstop. Server menyala tanpa henti. Pendingin bekerja keras. Konsumsi energi pun naik tajam.
“Seiring percepatan permintaan pusat data dan kecerdasan buatan, akses terhadap energi domestik yang andal menjadi semakin krusial,” ujar Moe Hanifi dari MN8 Energy.
Baca juga: Eropa Bangun Lumbung Listrik Raksasa di Laut Utara
Meta bahkan mengontrak kapasitas baru. Artinya, bukan sekadar membeli listrik hijau yang sudah ada, tapi ikut mendorong pembangunan pembangkit baru.
“Kami bermitra untuk menghadirkan tambahan energi terbarukan dan mendukung operasional dengan 100 persen energi bersih,” kata Urvi Parekh dari Meta.
Singkatnya, AI bukan cuma soal software. Ini soal infrastruktur energi.

Tekanan Baru
Selama bertahun-tahun, permintaan listrik di AS relatif datar. Tapi AI mengubah pola itu.
Ketika pembangkit lama pensiun dan data center terus tumbuh, sistem listrik menghadapi tekanan baru. Pemerintah dan operator jaringan harus menjaga pasokan tetap stabil.
Baca juga: AI Setara Manusia Tinggal Selangkah Lagi, Dunia Siap?
Dan perusahaan teknologi tidak menunggu. Mereka mengunci listrik lewat kontrak jangka panjang.
Lalu Indonesia?
Pertanyaannya sederhana, kalau AI dan data center makin berkembang di Indonesia, sistem listrik kita siap?
Saat ini, ekspansi data center terkonsentrasi di Jawa dan Batam. Transformasi digital terus dipacu. Cloud, AI, dan komputasi besar jadi tulang punggung ekonomi baru.
Tapi struktur pasar listrik Indonesia masih berbasis single buyer dengan dominasi PLN. Skema pembelian listrik langsung oleh perusahaan (corporate PPA) belum sepenuhnya fleksibel.
Baca juga: AI Buka 1,3 Juta Lowongan Baru, Gen Z Siap Rebut?
Kalau kebutuhan listrik melonjak cepat, tantangannya bukan cuma soal tambah pembangkit. Tapi juga soal desain sistem, regulasi, dan kesiapan jaringan.
AI bisa jadi mesin pertumbuhan ekonomi digital. Tapi tanpa pasokan listrik yang cukup dan stabil, pertumbuhan itu bisa terhambat.
Era AI bukan cuma soal algoritma. Ini juga soal kabel, gardu induk, dan pembangkit.
Indonesia siap nggak? ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.