AI Mulai Dipakai Pantau Abrasi Pantura, Akurasinya Tembus 92%

Kawasan pesisir utara Jawa yang terdampak genangan dan perubahan garis pantai. Kini, teknologi AI mulai digunakan untuk memantau abrasi dan pergeseran pesisir secara lebih akurat. Foto: Dok. PUPR.

JAKARTA, mulamula.idCara memantau abrasi di pesisir utara Jawa kini berubah. Bukan lagi mengandalkan pengamatan manual yang terbatas, tapi mulai memakai kecerdasan buatan (AI) berbasis citra satelit.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan metode baru untuk membaca garis pantai Pantura dengan akurasi tinggi. Hasilnya cukup mencolok. Tingkat ketepatan model mencapai sekitar 92 persen.

Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan citra satelit Sentinel-2. Data tersebut kemudian diolah menggunakan model deep learning U-Net untuk memisahkan wilayah darat dan laut secara otomatis.

Pantura dalam Tekanan

Pantura bukan wilayah biasa. Kawasan ini menjadi jalur ekonomi utama yang menghubungkan berbagai kota besar di Jawa. Namun, tekanan lingkungan di wilayah ini juga terus meningkat.

Abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah terjadi hampir bersamaan. Di banyak titik, garis pantai terus mundur. Permukiman, tambak, hingga infrastruktur berada dalam risiko.

Baca juga: Pantura Terancam, Ekonomi Bisa Kolaps

Masalahnya, perubahan ini sering kali sulit dipantau secara cepat dan akurat. Data yang tersedia kerap tertinggal dari kondisi di lapangan.

AI Membaca Garis Pantai

Dengan pendekatan baru ini, AI mampu mengidentifikasi batas darat dan laut hingga tingkat piksel. Artinya, perubahan kecil sekalipun bisa terdeteksi.

Peneliti BRIN, Edwin Adi Wiguna, menyebut metode ini bisa menjadi solusi untuk pemantauan pesisir yang lebih efisien.

“Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk observasi garis pantai secara berkala dengan biaya yang lebih rendah,” ujarnya.

Selain akurasi tinggi, teknologi ini juga lebih hemat. Pemerintah tidak perlu lagi melakukan survei lapangan secara terus-menerus untuk memantau perubahan garis pantai.

Desain Grafis: Daffa Attarikh.
Tak Selalu Sempurna

Meski hasilnya menjanjikan, teknologi ini belum tanpa tantangan.

Pada wilayah pantai berlumpur dan kawasan tambak, akurasi masih bisa menurun. Hal ini terjadi karena karakteristik permukaan yang mirip antara daratan basah dan perairan dangkal.

Baca juga: Laut Jawa Kian Sepi Ikan, Alarm Serius bagi Nelayan dan Lingkungan

Secara rata-rata, deviasi hasil pengukuran mencapai sekitar 55 meter dari data referensi. Dalam kondisi tertentu, kesalahan bahkan bisa mencapai lebih dari 300 meter.

Artinya, AI belum bisa berdiri sendiri. Tetap dibutuhkan kombinasi dengan data lapangan untuk memastikan hasil yang lebih akurat.

Dari Reaktif ke Prediktif

Meski begitu, teknologi ini membuka arah baru dalam pengelolaan pesisir.

Selama ini, banyak kebijakan baru bergerak setelah dampak terjadi. Tanggul dibangun setelah banjir datang. Perlindungan pesisir dilakukan setelah kerusakan meluas.

Baca juga: Mangrove, Penjaga Pesisir yang Kian Terancam

Dengan AI, pendekatannya bisa berubah. Perubahan garis pantai bisa dipantau lebih rutin. Area berisiko bisa dipetakan lebih cepat. Intervensi bisa dirancang sebelum kerusakan makin parah.

Dengan kata lain, pengelolaan pesisir mulai bergerak dari reaktif menuju prediktif.

Kenapa Ini Penting?

Pantura adalah salah satu wilayah paling padat dan strategis di Indonesia. Jika perubahan garis pantai tidak terpantau dengan baik, dampaknya bisa meluas ke ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Baca juga: Bunker Nuklir Ini Kalah oleh Alam, Erosi Pesisir Tak Bisa Ditawar

Pemanfaatan AI memberi peluang baru. Data menjadi lebih cepat, lebih detail, dan lebih murah.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah teknologinya ada.
Tapi, apakah data ini akan benar-benar digunakan untuk mengambil keputusan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *