
Takut yang Tak Pernah Kita Akui
TIDAK semua orang ikut ramai karena percaya.
Sebagian ikut karena takut.
Takut salah.
Takut dibenci.
Takut diserang.
Takut sendirian.
Di dunia yang riuh oleh opini, rasa takut sering bekerja diam-diam.
Rasa takut tidak berteriak.
Rasa takut membisikkan satu kalimat sederhana,
“Ikut saja. Lebih aman.”
Ketika Aman Lebih Penting daripada Benar
Banyak dari kita sebenarnya ragu.
Merasa ada yang janggal.
Menyadari sesuatu tidak sepenuhnya tepat.
Namun, kita melihat sekitar.
Semua orang sudah memilih sisi.
Semua sudah bersuara.
Dan di titik itu, kebenaran menjadi mahal.
Karena untuk mempertahankannya, kita harus siap kehilangan kenyamanan sosial.
Baca juga: Aksara: Kita Tak Kehilangan Informasi, Kita Kehilangan Kejernihan
Menurut Pew Research Center (2024),
sebagian besar pengguna media sosial mengaku menyembunyikan pandangan pribadi demi menghindari konflik atau serangan.
Bukan karena mereka tak punya pendapat.
Melainkan karena takut konsekuensinya.
Ikut Ramai sebagai Mekanisme Bertahan
Ikut arus sering dianggap sikap netral.
Padahal, itu adalah pilihan.
Pilihan untuk tidak berdiri sendiri.
Pilihan untuk tidak menjadi sasaran.
Pilihan untuk bertahan.
Masalahnya, ketika terlalu banyak orang memilih aman,
ruang publik kehilangan kejujuran.
Baca juga: Empati yang Perlu Kita Evakuasi
Yang tersisa hanyalah gema.
Pendapat yang diulang-ulang.
Dan keberanian yang perlahan menguap.

Takut Berbeda di Era Algoritma
Algoritma memperparah rasa takut itu.
Algoritma memberi ganjaran pada yang sejalan.
Algoritma menghukum yang menyimpang.
Pendapat populer dipromosikan.
Yang berbeda dikerdilkan, diserang, atau ditenggelamkan.
Akhirnya, banyak orang belajar satu hal,
berpikir sendiri itu berisiko.
Maka kita menyesuaikan nada.
Menghaluskan sikap.
Atau memilih diam.
Baca juga: Aksara: Semua Ingin Didengar, tapi Sedikit yang Mau Mendengar
Bukan karena tak peduli.
Tapi karena lelah bertarung sendirian.
Keberanian yang Lahir dari Membaca
Namun keberanian tidak lahir dari keramaian.
Keberanian lahir dari kejernihan.
Membaca memberi jarak dari hiruk-pikuk.
Membaca menguatkan pikiran sebelum suara dikeluarkan.
Dengan membaca, kita belajar bahwa dunia tidak hitam-putih.
Bahwa kebenaran jarang sederhana.
Dan bahwa berbeda bukanlah dosa.
Baca juga: Aksara: Hidup Tanpa Membaca, tapi Penuh Berdebat
Membaca tidak membuat kita selalu benar.
Tetapi membuat kita lebih jujur pada apa yang kita pikirkan.
Akhirnya…
Mungkin tantangan terbesar zaman ini bukan kurangnya informasi,
melainkan keberanian untuk tidak ikut ramai.
Untuk berpikir sendiri.
Untuk ragu di tengah kepastian palsu.
Untuk diam ketika suara-suara lain terlalu memaksa.
Karena dalam dunia yang ramai oleh rasa takut,
keberanian berpikir adalah bentuk kebebasan terakhir.
Salam literasi.
Catatan Redaksi
- Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu: membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.
Dukung Jurnalisme Kami: https://saweria.co/PTMULAMULAMEDIA