
PULAU Sumatra sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya soal banjir, konflik satwa, atau hutan yang terus menyusut. Data terbaru menunjukkan Sumatra kini menjadi wilayah dengan kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia.
Temuan ini berasal dari kajian IPB University yang dipimpin Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof. Syartinilia. Kajian tersebut menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII), indikator global untuk mengukur seberapa utuh keanekaragaman hayati suatu wilayah dibandingkan kondisi alaminya.
Dalam periode 2017–2020, skor Sumatra tercatat turun paling tajam dibandingkan pulau besar lain di Indonesia. Artinya sederhana, alam Sumatra makin jauh dari kondisi sehat.
Data Global, Dampak Lokal
BII bukan sekadar angka teknis. Indeks ini menggambarkan bagaimana aktivitas manusia mengubah lanskap dan memengaruhi populasi spesies. Ketika skor turun, fungsi alam ikut melemah, mulai dari penyediaan air bersih hingga ketahanan terhadap bencana.
Baca juga: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatra, dari Mana Semua ini Berasal?
Di Sumatra, tekanan itu datang dari berbagai arah. Alih fungsi lahan, ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, hingga fragmentasi hutan terus menekan ruang hidup satwa dan ekosistem alami.
Ancaman Nyata hingga 2050
Masalahnya tidak berhenti di hari ini. Jika pola pembangunan terus berjalan seperti sekarang, tanpa koreksi berarti, kehilangan biodiversitas di Sumatra diproyeksikan berlanjut hingga 2050. Dalam skenario business as usual, penurunan keanekaragaman hayati diperkirakan mencapai sekitar 15 persen.
Angka itu bukan sekadar data. Tapi, bermakna semakin rapuhnya sistem alam yang selama ini menopang kehidupan. Mulai pangan, air, perlindungan dari banjir, hingga stabilitas iklim lokal.
Baca juga: Dari Batang Toru ke Banjir Besar, Hutan Sumatra Kirim Peringatan Keras
Namun arah ini masih bisa diubah. Dalam skenario berkelanjutan, kehilangan biodiversitas hingga 2050 diperkirakan dapat ditekan menjadi sekitar 11 persen. Selisihnya tampak kecil, tetapi dampaknya besar bagi masa depan alam Sumatra.

Habitat Menyusut, Alam Kian Rentan
Tekanan paling nyata terlihat pada satwa liar. Gajah Sumatra, salah satu spesies kunci dan simbol konservasi Indonesia, menghadapi ancaman serius. Habitatnya diproyeksikan menyusut hingga 66 persen jika ekspansi ruang terus dibiarkan.
Baca juga: Target Apple 2030 Ternyata Bergantung pada Hutan Sumatra
Sebaliknya, pendekatan berkelanjutan justru membuka peluang pemulihan. Habitat gajah Sumatra diperkirakan masih bisa meningkat sekitar lima persen jika kebijakan tata ruang dan konservasi dijalankan konsisten.
Tekanan itu diperparah oleh perubahan iklim. Kenaikan suhu, cuaca ekstrem, dan perubahan pola hujan bekerja bersama aktivitas manusia, mempercepat degradasi ekosistem. Kajian IPB juga menyoroti ekosistem lahan basah dan pegunungan sebagai yang paling rentan, dua tipe ekosistem penting yang banyak terdapat di Sumatra.
Karena itu, isu biodiversitas Sumatra bukan lagi urusan konservasi semata. Ini soal arah pembangunan dan pilihan kebijakan.
Baca juga: Darurat Ekologi, Satwa Liar Terjepit di Tengah Sawit dan Tambang
IPB University merekomendasikan sejumlah langkah kunci, mulai dari restorasi ekosistem terfokus, konservasi berbasis masyarakat, hingga pengelolaan lanskap terpadu. Semua itu membutuhkan komitmen pemerintah, pelaku usaha, dan publik.
Satu hal jelas, tanpa perubahan arah, alam Sumatra akan terus kehilangan kemampuannya menopang kehidupan. Dan dampaknya akan dirasakan semua orang. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.