
BANGUNAN ini dibuat untuk menghadapi perang paling menakutkan di abad ke-20. Perang nuklir. Namun, justru alam yang membuatnya kalah.
Sebuah bunker nuklir era Perang Dingin di pesisir East Yorkshire, Inggris, kini berada di ambang runtuh ke laut. Bukan karena bom atau misil. Tapi, karena erosi pesisir yang terus menggerus tebing tempat bangunan itu berdiri.
Bunker tersebut dibangun pada akhir 1950-an sebagai bagian dari sistem pertahanan Inggris. Fungsinya sederhana tapi ekstrem, bertahan hidup setelah ledakan nuklir dan mencatat dampaknya. Ironisnya, bunker itu tak pernah dipakai untuk perang. Kini, justru tak berdaya menghadapi perubahan alam.
Baca juga: Pantura Terancam, Ekonomi Bisa Kolaps
Otoritas setempat di East Riding of Yorkshire bahkan meminta publik menjauhi area tersebut. Tebing terus terkikis. Risiko longsor meningkat. Seperti dilaporkan BBC, runtuhnya bunker hanya tinggal menunggu waktu.
Ketika Alam Bergerak Lebih Cepat
Wilayah East Yorkshire dikenal sebagai salah satu garis pantai dengan laju erosi tercepat di Inggris. Setiap tahun, daratan menyusut. Gelombang laut, tanah lempung yang rapuh, dan cuaca ekstrem bekerja bersamaan.
Baca juga: Laut Jawa Kian Sepi Ikan, Alarm Serius bagi Nelayan dan Lingkungan
Dalam sejarah panjangnya, kawasan ini telah kehilangan desa-desa pesisir. Kini, sebuah bangunan bersejarah ikut masuk daftar yang akan hilang. Tidak ada upaya penyelamatan. Tidak ada relokasi. Negara memilih memberi peringatan, bukan melawan alam.
Keputusan ini mungkin terdengar dingin. Tapi itulah realitas pesisir hari ini. Tidak semua garis pantai bisa dipertahankan.

Bukan Cuma Masalah Inggris
Kisah bunker ini terasa jauh. Tapi, sebenarnya dekat.
Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer. Ribuan desa berada di tepi laut. Banyak di antaranya sudah menghadapi abrasi, rob, dan naiknya permukaan laut.
Bedanya, Indonesia tidak hanya berhadapan dengan bangunan kosong. Ada rumah warga. Ada tambak. Ada jalan. Ada sekolah. Ada kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Laut Naik, Daratan Menyusut: 0,6 Meter yang Bisa Kita Selamatkan
Apa yang terjadi di Inggris menunjukkan satu hal, alam bergerak lebih cepat daripada kebijakan. Ketika adaptasi terlambat, pilihan yang tersisa sering kali hanyalah “mundur” atau “kehilangan”.
Alarm yang Sulit Diabaikan
Bunker nuklir ini akhirnya menjadi simbol. Bukan simbol perang. Tapi, simbol perubahan iklim yang nyata.
Ini mengingatkan bahwa ancaman terbesar hari ini bukan lagi serangan militer, melainkan perubahan lingkungan yang pelan tapi pasti. Erosi pesisir tidak datang dengan sirene. Tapi dampaknya bisa permanen.
Baca juga: Mangrove, Penjaga Pesisir yang Kian Terancam
Ketika bangunan itu akhirnya jatuh ke laut, yang hilang bukan hanya bata dan beton. Yang ikut tenggelam adalah pengingat bahwa alam tidak bisa diajak bernegosiasi. Dan waktu untuk beradaptasi terus menyempit. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.