Di Balik Kecerdasan AI, Ada Listrik dan Air yang Terus Terkuras

Aktivitas di ruang pusat data yang menopang sistem kecerdasan buatan. Di balik AI yang kita pakai sehari-hari, ada infrastruktur digital besar yang butuh energi dan pendinginan. Foto: Christina Morillo/ Pexels.

KECERDASAN buatan atau AI sering dipuji sebagai teknologi masa depan. AI membantu membaca pola cuaca, memprediksi banjir, sampai mengatur lalu lintas kota. Tapi, ada sisi lain yang jarang dibahas. AI ternyata juga punya jejak lingkungan yang tidak kecil.

Setiap model AI berjalan di pusat data raksasa. Tempat ini dipenuhi server yang bekerja tanpa henti. Mereka butuh listrik besar dan sistem pendingin yang mengonsumsi banyak air. Semakin canggih modelnya, semakin besar pula energi yang dipakai.

Inilah paradoks baru. AI dipakai untuk membantu mengatasi krisis iklim, tapi di saat yang sama bisa menambah tekanan pada bumi jika tidak dikelola dengan bijak.

AI Bantu Iklim, tapi Butuh Energi Besar

AI sudah dipakai untuk memprediksi cuaca ekstrem, mengelola jaringan listrik, hingga membantu petani membaca kondisi tanah. Teknologi ini membuat keputusan jadi lebih cepat dan berbasis data.

Baca juga: AI Haus Listrik, Mengapa Google Kini Membeli Pembangkit Energi

Masalahnya, proses melatih satu model AI besar bisa menghabiskan energi setara ribuan rumah tangga. Pusat data yang menopangnya juga perlu air dalam jumlah besar untuk menjaga suhu mesin tetap stabil.

Jadi, setiap kali kita bicara AI sebagai solusi, kita juga perlu bertanya: seberapa besar biaya lingkungannya?

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Muncul Konsep “AI Hemat Energi”

Beberapa negara mulai mendorong konsep AI yang lebih hemat sumber daya. Intinya, teknologi harus dirancang agar tidak boros listrik dan air. Pemerintah bisa ikut mengatur lewat standar pengadaan dan insentif bagi teknologi yang lebih efisien.

Baca juga: Media Sosial 2026: AI Jadi Otak, Kreator Jadi Mesin Belanja

Pendekatan ini penting, terutama bagi negara berkembang. Jangan sampai adopsi AI justru membuat tagihan energi melonjak dan emisi bertambah.

Dunia Usaha Ikut Hitung-hitungan

Perusahaan juga mulai realistis. Mereka tak lagi sekadar mengejar label “pakai AI”. Yang dicari adalah sistem yang benar-benar membuat operasional lebih hemat energi, lebih efisien, dan membantu pelaporan lingkungan.

Baca juga: AI Nggak Cuma Pintar, tapi Rakus Energi

AI dipakai untuk menghitung emisi, mengoptimalkan logistik, hingga mengurangi limbah produksi. Jika dirancang tepat, AI bisa membantu bisnis jadi lebih ramah lingkungan.

Masa Depan AI Ditentukan Sekarang

AI tidak akan hilang. Justru akan makin luas dipakai. Karena itu, cara kita mengaturnya hari ini penting. Tanpa aturan dan desain yang cermat, AI bisa jadi beban baru bagi bumi. Tapi dengan pendekatan yang tepat, ia bisa menjadi alat kuat untuk menyelamatkan masa depan.

Teknologinya pintar. Sekarang giliran manusianya yang harus bijak. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *