Di Tengah Riuh Media Sosial, Publik Tetap Percaya Pers

Aktivitas ruang redaksi mencerminkan peran pers sebagai penyaring informasi di tengah riuh media sosial dan banjir konten digital. Foto: Cado Maestro/ Pexels.

SERANG, BANTEN, mulamula.id Di tengah linimasa yang bising, satu hal pelan-pelan terasa, kepercayaan masih punya alamat. Media sosial boleh penuh sensasi. Emosi boleh tumpah tiap detik. Tapi ketika publik benar-benar butuh kepastian, mereka tahu ke mana harus kembali.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyebut situasi ini sebagai paradoks zaman. Media sosial bergerak cepat. Viral datang silih berganti. Namun di balik itu, kelelahan informasi tumbuh. Dan di situlah peran pers kembali dicari.

Berbicara dalam Konvensi Nasional Media Massa pada peringatan Hari Pers Nasional, Minggu (8/2), Komaruddin mengibaratkan disrupsi informasi seperti banjir besar. Air ada di mana-mana. Tapi, tidak semuanya layak diminum.

“Pers itu seperti lembaga penyulingan,” ujarnya. Tugasnya sederhana tapi krusial, yakni menyaring, mengolah, dan menghadirkan informasi yang jernih. Air bersih, di tengah banjir.

Ketika Publik Lelah Scroll

Riset yang dikutip Dewan Pers menunjukkan pola menarik. Saat publik merasa bingung, jenuh, bahkan lelah oleh informasi media sosial, mereka cenderung kembali ke media arus utama. Bukan untuk hiburan. Tapi untuk klarifikasi. Untuk konteks. Untuk kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.

Baca juga: Hari Pers Nasional dan Tantangan Media di Era Gen Z

Fenomena ini menegaskan satu hal, pers belum kehilangan relevansi. Justru diuji.

Bagi generasi muda, yang hidup dengan notifikasi dan algoritma, ini sinyal penting. Kecepatan bukan segalanya. Akurasi tetap punya nilai.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat. Foto: Dok. Dewan Pers.
Disrupsi Itu Bukan Musuh

Komaruddin mengingatkan, disrupsi bukan cerita baru. Itu adalah bagian dari sejarah. Datang di setiap fase peradaban. Mengacaukan kebiasaan lama. Memaksa manusia beradaptasi.

Dalam setiap masa disrupsi, selalu ada tiga tipe orang. Mereka yang merasa kalah dan terus mengeluh. Mereka yang memilih menunggu sambil mengamati. Dan mereka yang bergerak lebih dulu, kelompok kreatif yang melihat peluang di balik kekacauan.

Pers, menurutnya, harus memilih posisi ketiga.

“Kita boleh berkeluh kesah. Tapi jangan lama-lama,” katanya. Optimisme dan kreativitas adalah modal utama untuk bertahan.

Media yang Bertahan, Media yang Berubah

Di tengah dominasi algoritma dan perebutan perhatian publik, tantangan pers memang nyata. Tapi antusiasme insan media yang hadir dalam konvensi itu memberi harapan. Ada semangat untuk beradaptasi. Ada kesadaran untuk berubah tanpa kehilangan integritas. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *