Freeport di Persimpangan, Ekspor Tembaga atau Hilirisasi?

Fasilitas industri pengolahan mineral di kawasan Gresik, Jawa Timur. Smelter Manyar menjadi kunci hilirisasi tembaga Freeport. Foto: Youtube/ Setpres.

PEMERINTAH tengah menghadapi keputusan penting terkait PT Freeport Indonesia. Relaksasi ekspor konsentrat tembaga yang diberikan sejak Maret 2025 akan berakhir pada pertengahan September. Pertanyaan besarnya, apakah izin tersebut akan diperpanjang atau dihentikan?

Relaksasi diberikan karena Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, sempat mengalami kebakaran pada Oktober 2024. Fasilitas yang seharusnya menjadi tulang punggung hilirisasi ini tidak dapat beroperasi optimal. Akibatnya, konsentrat dari tambang Freeport di Papua masih diekspor.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan bahwa relaksasi hanya bersifat sementara. “Kalau sudah selesai, ya tidak ada perpanjangan,” ujarnya di Jakarta (27/8).

Baca juga: Relaksasi Ekspor Freeport Terancam Stop, Pemerintah Kirim Sinyal Keras

Freeport Menunggu Evaluasi

Dari pihak Freeport, Presiden Direktur Tony Wenas menyatakan perusahaan masih menunggu hasil evaluasi pemerintah. Ia tidak memastikan apakah akan mengajukan perpanjangan izin relaksasi.
Menurut Tony, Smelter Manyar kini sudah memasuki tahap ramp-up produksi. Dari 40%, 50%, 60%, hingga mendekati 70%. Targetnya, kapasitas penuh 100% akan tercapai pada akhir 2025.

Pekerja di area electrorefinery Smelter Manyar, Gresik. Fasilitas ini mengolah konsentrat menjadi katoda tembaga sebagai bagian dari hilirisasi. Foto: Youtube/ Setpres.
Seksinya Tembaga

Tembaga bukan sekadar mineral tambang. Hampir semua perangkat teknologi masa kini dan masa depan membutuhkan tembaga. Mulai kabel, ponsel, laptop, mobil listrik, hingga panel surya. Tanpa pasokan tembaga yang memadai, transisi menuju energi bersih bisa terhambat.

Inilah sebabnya hilirisasi tembaga menjadi agenda strategis. Pemerintah mendorong agar mineral ini diolah di dalam negeri, bukan diekspor mentah, sehingga nilai tambah ekonominya dapat dirasakan lebih besar.

Ujian Konsistensi Hilirisasi

Relaksasi ekspor Freeport menjadi ujian konsistensi kebijakan hilirisasi Indonesia. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa komitmen hilirisasi tidak sekadar jargon, tetapi benar-benar dijalankan.

Smelter Manyar yang kini dalam tahap pemulihan menjadi kunci. Keputusan pemerintah pada September nanti akan memberi sinyal penting, apakah Indonesia mampu naik kelas sebagai negara pengolah mineral strategis, atau kembali bergantung pada ekspor mentah. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *