
SELAMA ini, ketika bicara soal perubahan iklim, pikiran kita langsung melompat ke hutan gundul, es mencair, atau mobil listrik. Jarang ada yang menoleh ke gedung-gedung kota. Padahal, justru di sanalah salah satu “sumber masalah” sekaligus peluang solusi berada.
Gedung bukan sekadar tempat tinggal, bekerja, atau nongkrong. Gedung adalah pemakan energi besar. Pendingin ruangan, pemanas, lampu, hingga sistem ventilasi menyumbang emisi karbon dalam jumlah signifikan. Karena itu, banyak kota mulai mengubah cara mereka memandang bangunan. Bukan lagi beban energi, tapi bagian dari solusi iklim.
New York menjadi salah satu contoh terbaru. Pemerintah negara bagian ini mengucurkan dana jutaan dolar untuk mengubah cara gedung dibangun dan direnovasi. Targetnya sederhana tapi berdampak besar, yakni menekan emisi, menghemat energi, dan membuat kota lebih siap menghadapi krisis iklim.
Gedung Ikut “Kerja” Menurunkan Emisi
Alih-alih membangun gedung baru yang boros energi, proyek-proyek ini fokus pada dua hal, elektrifikasi dan efisiensi. Sistem pemanas berbasis fosil diganti pompa panas listrik. Ventilasi diperbaiki agar sirkulasi udara lebih hemat energi. Panel surya dan baterai mulai dipasang langsung di lokasi.
Baca juga: Bangunan Hijau di Indonesia, Tren Menjanjikan atau Tantangan Berat?
Hasilnya, gedung tidak lagi cuma berdiri pasif. Gedung aktif mengelola energi yang digunakan.
Kampus, hunian terjangkau, pusat komunitas, galeri seni, hingga hotel ikut masuk dalam skema ini. Tempat-tempat yang sehari-hari kita datangi ternyata bisa berkontribusi menurunkan emisi karbon tanpa mengorbankan fungsi utamanya.

Bukan Cuma Soal Iklim
Menariknya, perubahan ini tidak melulu soal lingkungan. Renovasi dan pembangunan gedung rendah karbon juga menciptakan lapangan kerja baru. Mulai dari konstruksi, instalasi teknologi energi bersih, hingga pengelolaan gedung.
Baca juga: Jejak Emisi Perusahaan Energi Fosil Sebabkan Kerugian Rp 471 Kuadriliun
Artinya, transisi iklim tidak selalu identik dengan pengorbanan ekonomi. Dalam banyak kasus, transisi iklim justru membuka peluang baru, terutama di kota-kota yang ingin berbenah.
Pendekatan ini juga menyasar kawasan yang selama ini kurang mendapat investasi. Gedung-gedung di lingkungan berpenghasilan rendah ikut direnovasi agar lebih sehat, nyaman, dan efisien energi. Udara lebih bersih. Biaya listrik lebih terkendali.
Kota Mulai Berubah
Laporan yang dikutip ESG News mencatat, pendekatan New York menunjukkan arah baru kebijakan iklim perkotaan. Bangunan tidak lagi diperlakukan sebagai bagian dari masalah, melainkan sebagai alat perubahan.
Baca juga: Kurangi Emisi, Atau Dunia Tak Lagi Bisa Diasuransikan
Bagi generasi muda yang hidup di kota, ini kabar penting. Perubahan iklim bukan hanya urusan masa depan jauh. Perubahan iklim sedang dibahas dan ditangani lewat ruang-ruang yang kita gunakan setiap hari. Mulai dari kampus, apartemen, kantor, hingga tempat nongkrong.
Kota-kota di dunia mulai menyadari satu hal, jika ingin serius menurunkan emisi, mereka harus mulai dari bangunan. Dari beton, kaca, dan baja yang selama ini kita anggap diam, ternyata bisa lahir perubahan besar. ***
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.