Indonesia, “Raja Hacker” Baru di Internet Dunia

Visual ilustratif ancaman siber, di tengah laporan Cloudflare yang menempatkan Indonesia sebagai sumber serangan DDoS terbesar dunia pada Q3 2025. Foto: Ilustrasi/ Matias Mango/ Pexels.

Mulamula.id – Indonesia sedang naik daun, tapi bukan di kategori yang kita harapkan. Laporan terbaru Cloudflare untuk Q3 2025 menempatkan Indonesia sebagai sumber serangan siber terbesar di dunia selama empat kuartal berturut-turut.

Ini berarti, selama satu tahun penuh, lalu lintas serangan terbanyak yang menggoyang internet global berasal dari perangkat yang berlokasi di Indonesia.

Posisi ini bukan sekadar naik peringkat. Ini lonjakan.

Lonjakan Serangan dari RI: Konsisten di Puncak

Cloudflare mencatat Indonesia sudah berada di posisi atas sejak 2024, tapi tahun ini grafiknya makin tajam. Dalam lima tahun terakhir saja, lonjakan permintaan HTTP DDoS dari Indonesia mencapai 31,9%.

Baca juga: AI Jadi Senjata Baru Penipuan Siber, Begini Modus yang Harus Diwaspadai

Top 10 negara sumber serangan DDoS global kini dikuasai kawasan Asia, 7 dari 10 negara. Indonesia berada di puncak, disusul Thailand dan Bangladesh, sementara Rusia dan Ukraina justru turun peringkat.

Aisuru, Botnet Jumbo di Balik Kekacauan Internet

Tren ini makin dipicu oleh Aisuru, botnet raksasa yang jumlah perangkat terinfeksinya diperkirakan mencapai 1–4 juta host di seluruh dunia.

Serangannya ekstrem. Rutin menembus 1 Tbps dan 1 miliar paket per detik, dengan puncak mencapai 29,7 Tbps, salah satu yang terbesar dalam sejarah internet.

Baca juga: IC4, Senjata Baru Hadapi Penipuan Siber di Indonesia

Aisuru paling sering menghantam:

  • layanan telekomunikasi
  • industri game
  • perusahaan hosting
  • sektor keuangan

Bahkan, beberapa operator internet di Amerika Serikat dilaporkan sempat tumbang hanya karena volume trafik botnet yang lewat.

Peta global Cloudflare yang menunjukkan Indonesia berada di posisi pertama sumber serangan DDoS terbesar pada Q3 2025. Sumber: Cloudflare.
Serangan yang Singkat, Dampaknya Panjang

Sebagian besar serangan DDoS berlangsung cepat, kurang dari 10 menit.
Tapi efeknya bisa berhari-hari:

  • situs melambat atau tak bisa diakses
  • data harus diverifikasi ulang
  • sistem kritis butuh pemulihan bertahap

Baca juga: AI Voice Spoofing, Suara Kamu Bisa Dipakai Menjebak Keluarga

Gejalanya sering tidak disadari pengguna. Internet lemot, aplikasi error, atau spam membanjir.

Apa itu DDoS?

DDoS adalah serangan yang mem-banjiri server dengan trafik palsu hingga layanan tumbang. Serangan bisa dalam bentuk:

  • Volumetric Attacks – memenuhi bandwidth
  • Protocol Attacks – menyerang lapisan jaringan
  • Application-Layer Attacks – menargetkan aplikasi tertentu

Baca juga: Singapura Tak Main-main, Penipu Online Kini Bisa Dicambuk

Durasinya bisa detik, bisa juga berbulan-bulan. Skalanya bergantung pada seberapa besar botnet yang digunakan.

Bukan Penghargaan yang Kita Inginkan

Status Indonesia sebagai “Raja Hacker” baru internet dunia bukan soal gaya, tapi sinyal besar bahwa:

  • perangkat IoT di rumah-rumah banyak yang rentan,
  • router murah mudah diretas,
  • literasi keamanan digital masih rendah,
  • dan jutaan perangkat warga bisa dipaksa jadi “prajurit botnet” tanpa disadari.

Di era digital yang makin terkoneksi, Indonesia perlu bergerak cepat memperkuat keamanan, dari level pengguna sampai kebijakan nasional. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *