
JAKARTA, mulamula.id – Warga Jakarta mungkin merasa udara beberapa hari terakhir lebih menyengat dari biasanya. Siang terasa terik. Jalanan memantulkan panas. Aktivitas di luar ruangan pun terasa lebih melelahkan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan kondisi tersebut memang sudah diperkirakan sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memproyeksikan suhu udara akan meningkat dalam beberapa hari terakhir.
“Memang diperkirakan BMKG pada satu, dua, tiga hari ini cuacanya cukup panas, termasuk hari ini,” kata Pramono setelah menghadiri upacara Melasti di Pura Segara, Jakarta Utara, Minggu (15/3).
Namun, menurutnya, kondisi panas ini tidak sepenuhnya kering. Di beberapa wilayah Jakarta masih ada potensi hujan ringan atau gerimis.
Baca juga: Transjabodetabek Buka Rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta, Perjalanan 121 Menit
Artinya, warga masih mungkin merasakan kombinasi cuaca yang tidak biasa, siang hari sangat panas, tetapi sore atau malam bisa turun hujan.
Pramono juga menyebut prediksi cuaca menunjukkan kemungkinan hujan saat mendekati dua momen besar, Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.
“Prediksinya saat Nyepi maupun Idul Fitri akan ada curah hujan. Jadi warga Jakarta tidak perlu terlalu khawatir,” ujarnya.
Kenapa Jakarta Terasa Lebih Panas?
BMKG menjelaskan bahwa panas yang terasa lebih kuat ini bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor atmosfer yang memengaruhinya.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan suhu maksimum di Jakarta dalam beberapa hari terakhir mencapai 34–36 derajat Celsius.
Angka tersebut memang masih dalam kisaran yang bisa terjadi di wilayah tropis. Namun, sensasi panasnya terasa lebih kuat karena kondisi langit yang sangat cerah.
“Hasil pengamatan BMKG menunjukkan suhu maksimum mencapai kisaran 34–36 derajat Celcius,” ujar Fachri.
Baca juga: “Mudik ke Jakarta”: Saat Ibu Kota Sepi, Pemprov Ajak Warga Liburan dan Belanja
Ketika langit hampir tanpa awan, sinar matahari dapat langsung mengenai permukaan bumi sejak pagi hingga siang hari. Akibatnya, panas yang diserap permukaan kota menjadi lebih besar.
Awan biasanya berperan seperti “pelindung alami”. Ia memantulkan sebagian radiasi matahari. Jika awan sedikit, perlindungan itu juga berkurang.
“Kondisi langit yang relatif cerah membuat radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal,” kata Fachri.
Akibatnya, suhu udara terasa lebih tinggi dan kondisi siang hari menjadi lebih terik.
Pengaruh Fenomena Atmosfer Global
Selain langit cerah, ada faktor lain yang ikut memengaruhi: dinamika atmosfer global.
BMKG mencatat Indonesia saat ini sedang berada dalam fase kering fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO). Fenomena ini merupakan pola pergerakan awan dan hujan di wilayah tropis.
Baca juga: Jakarta Kebanyakan Beton, Banjir Makin Susah Dihentikan
Ketika MJO berada dalam fase kering, pembentukan awan hujan menjadi lebih sedikit. Dampaknya, wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Jakarta dan Jawa, mengalami periode langit lebih cerah.
Fachri juga menyebut adanya pusat tekanan rendah di wilayah utara Australia. Kondisi ini ikut memengaruhi pola angin dan pembentukan awan di kawasan Indonesia.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat aktivitas pembentukan awan berkurang. Ketika awan sedikit, panas matahari menjadi lebih dominan.
Panas Kota dan Efek Urban
Di kota besar seperti Jakarta, sensasi panas sering kali terasa lebih kuat dibandingkan wilayah sekitarnya.
Fenomena ini dikenal sebagai urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Permukaan beton, aspal, dan bangunan menyerap panas lebih banyak dibandingkan tanah atau vegetasi. Pada siang hari panas terakumulasi, lalu dilepaskan kembali ke udara.
Akibatnya, suhu kota bisa terasa lebih tinggi dibandingkan daerah pinggiran.
Baca juga: Jakarta Disebut Kota dengan Tekanan Air Ekstrem, Apa Artinya?
Kombinasi antara langit cerah, radiasi matahari kuat, dan kepadatan bangunan membuat suhu Jakarta terasa semakin menyengat dalam beberapa hari terakhir.
Tidak Permanen
Meski terasa ekstrem, BMKG memastikan kondisi panas ini tidak berlangsung lama. Perubahan dinamika atmosfer dapat memicu kembali pembentukan awan hujan dalam beberapa hari ke depan.
Karena itu, warga Jakarta kemungkinan akan kembali merasakan pola cuaca yang lebih “normal”, panas di siang hari, lalu hujan pada sore atau malam.
Untuk sementara, warga disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak minum air, dan tetap memantau informasi cuaca dari BMKG.
Karena di kota tropis seperti Jakarta, perubahan cuaca bisa terjadi dengan cepat. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.