Jejak 14 Perusahaan di Balik Gelombang Panas Mematikan

Asap pabrik di langit senja. Jejak emisi inilah yang bikin bumi makin panas dan gelombang ekstrem makin sering. Foto: James Smeaton/ Pexels.

GELOMBANG panas makin sering bikin dunia kelabakan. Dari Eropa sampai Asia, suhu ekstrem bukan cuma bikin gerah, tapi juga merenggut puluhan ribu nyawa. Studi terbaru bahkan menyebut, hanya 14 perusahaan raksasa energi dan semen yang bertanggung jawab atas hampir sepertiga pemanasan global.

Penelitian yang terbit di jurnal Nature dan dikutip Independent (11/9/2025) menganalisis 213 gelombang panas sejak 2000. Mulai musim panas 2003 di Eropa yang mematikan, sampai fenomena heat dome di Amerika 2021. Hasilnya bikin merinding. Jejak panas ini bisa ditarik ke emisi dari perusahaan besar seperti Saudi Aramco, ExxonMobil, BP, Shell, Gazprom, hingga perusahaan batu bara milik negara di China, India, dan Iran.

Tanpa emisi dari mereka, para ilmuwan menyebut, sebagian besar gelombang panas itu hampir mustahil terjadi.

Frekuensi Meningkat, Suhu Naik

Data menunjukkan risiko gelombang panas melonjak tajam. Dibanding era pra-industri, kejadian panas ekstrem jadi 20 kali lebih mungkin muncul pada 2000–2009. Bahkan melonjak jadi 200 kali lebih sering di 2010–2019.

Baca juga: Krisis Iklim, Bagaimana Dunia Berubah dalam 2 Derajat?

Suhunya pun makin ganas. Rata-rata naik 1,4°C pada 2000–2009, jadi 1,7°C di 2010–2019, dan tembus 2,2°C sejak 2020.

Dari Ruang Riset ke Ruang Sidang

Temuan ini tidak cuma soal sains. Bisa jadi amunisi di pengadilan. Selama ini, susah membuktikan hubungan langsung antara emisi perusahaan dan bencana tertentu. Tapi dengan data ini, korporasi bisa ditarik ke meja hukum atas dampak nyata cuaca ekstrem.

Bukan cuma cuaca, ada ‘jejak tangan’ 14 perusahaan di balik panas mematikan ini. Siap-siap, masa depan makin panas kalau emisi tak ditekan. Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Buat pemerintah, tekanan juga makin kuat. Target net-zero tidak cukup lagi di atas kertas. Aksi nyata menekan emisi, apalagi dari pemain besar, jadi keharusan.

Nyawa Jadi Taruhannya

WHO mencatat puluhan ribu orang meninggal tiap tahun akibat panas ekstrem. Di Eropa saja, lebih dari 40 ribu orang tewas karena gelombang panas sepanjang 2023. PBB menyebut fenomena ini salah satu konsekuensi paling mematikan dari krisis iklim.

Baca juga: Krisis Iklim, Turbulensi Jadi Mimpi Buruk Baru di Langit

Karsten Haustein, peneliti Universitas Leipzig, menulis tajam. “Retorika anti-sains tidak akan menghapus tanggung jawab iklim. Gelombang panas akan semakin sering dan berbahaya bila emisi tidak ditekan,” tulis Karsten Haustein.

Indonesia, Jangan Lengah

Bagi Indonesia, temuan ini relevan. Sebagai produsen batu bara besar, kita bisa kena sorotan kalau masih nyaman di energi kotor. Tapi di sisi lain, ini juga peluang buat tampil di meja diplomasi iklim untuk mendesak akuntabilitas global dan menuntut transisi lebih cepat.

Baca juga: Sepertiga Bumi Bisa Tak Layak Huni, Dunia di Ambang Krisis

Pada akhirnya, krisis iklim bukan lagi isu abstrak. Ada jejak jelas siapa yang paling bertanggung jawab, ada nyawa nyata yang jadi korban, dan ada pilihan: ikut panas, atau ikut melawan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *