
Mulamula.id – Dunia sedang berubah arah. Persaingan global tak lagi hanya soal senjata atau tarif dagang. Kini, pertarungan utama bergeser ke teknologi, dan dampaknya terasa ke seluruh dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat dan China makin terbuka menunjukkan rivalitasnya. Washington menekan lewat pembatasan teknologi dan langkah geopolitik. Beijing merespons dengan satu strategi, mempercepat kemandirian.
Teknologi Jadi Kunci
Presiden Xi Jinping tak lagi melihat teknologi sebagai pelengkap. Ia menjadikannya fondasi kekuatan negara.
Dalam rencana lima tahun yang dipaparkan di Beijing, China mengalihkan fokus besar ke kecerdasan buatan, komputasi kuantum, hingga jaringan 6G. Sektor lain seperti bio-manufaktur, energi hidrogen, dan antarmuka otak-komputer ikut dipacu.
“Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis,” kata Xi dalam pidatonya.
Baca juga: Perang Era Satelit, Intelijen Militer Kini Bisa Viral di Media Sosial
Laporan The New York Times mencatat, Beijing memandang kemenangan di bidang teknologi akan menentukan kekuatan ekonomi, militer, bahkan pengaruh budaya di masa depan.
Tekanan Jadi Pemicu
Langkah agresif China tidak lahir di ruang kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, AS secara konsisten membatasi akses teknologi ke China.
Pada 2023, pemerintahan Joe Biden membatasi ekspor chip AI canggih, termasuk GPU dari Nvidia. Alasannya: menjaga keamanan nasional dan mencegah dominasi teknologi China.
Dampaknya luas. Perusahaan seperti Huawei kehilangan akses ke teknologi inti, termasuk sistem Android dari Google. Sebagai respons, Huawei membangun sistem operasinya sendiri, HarmonyOS.
Bagi Beijing, ini menjadi titik balik. Ketergantungan dianggap sebagai kerentanan strategis.
Seorang analis dari RAND China Research Center menilai, Washington kemungkinan akan terus menahan laju teknologi China. Tekanan inilah yang justru mendorong percepatan inovasi di dalam negeri.
Dari Ekonomi ke Militer
Persaingan tidak berhenti di teknologi sipil. Tapi, merembet ke sektor militer dan geopolitik.
Langkah AS di kawasan seperti Iran dan Venezuela dibaca sebagai sinyal kekuatan. Namun, bagi Beijing, ini juga menjadi alarm.
Baca juga: Serangan AS ke Iran Dikritik 100 Pakar Hukum, Potensi Kejahatan Perang Menguat
“Langkah tersebut kemungkinan besar akan mendorong China memperkuat kemampuan untuk melawan AS,” kata Daniel R. Russel, mantan pejabat diplomatik AS.
China merespons dengan menaikkan anggaran militernya sekitar 7 persen tahun ini, menjadi sekitar 277 miliar dolar AS. Tapi, arah kebijakan tetap sama: teknologi adalah fondasi utama kekuatan jangka panjang.
Ambisi dan Risiko
China kini membidik dominasi di berbagai sektor masa depan, seperti AI, robotika, komputasi kuantum, hingga 6G. Bahkan, teknologi ekstrem seperti penambangan laut dalam dan energi fusi mulai masuk peta jalan.
Namun, strategi ini membawa konsekuensi.
Baca juga: Perang Iran Berbasis AI, 900 Serangan dalam 12 Jam
Sejumlah analis memperingatkan potensi kelebihan produksi. Jika kapasitas industri melonjak tanpa koordinasi yang solid, produk China akan membanjiri pasar global.
Artinya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dua negara besar ini. Negara lain, termasuk Indonesia, akan ikut terseret dalam dinamika baru rantai pasok global.
Pertarungan Abad Ini
Persaingan AS dan China kini memasuki fase baru. Bukan lagi soal siapa yang punya senjata paling kuat, tetapi siapa yang paling cepat berinovasi.
Jawabannya akan menentukan arah ekonomi dunia, keseimbangan kekuatan global, hingga masa depan teknologi yang digunakan manusia sehari-hari.
Dan satu hal mulai terlihat jelas, perang terbesar abad ini tidak terjadi di medan tempur, melainkan di laboratorium. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.