Laut Kita Bisa Jadi Pembangkit Listrik, Kok Masih Diabaikan?

Bentang teluk dan selat di kawasan kepulauan Nusa Tenggara Timur dengan dinamika arus laut yang tinggi, salah satu tipe lokasi ideal untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).
Foto: Ilustrasi/ Pixabay/ Pexels.

INDONESIA itu negara laut.
Lebih dari separuh wilayahnya berupa perairan.
Tapi ironisnya, hampir semua listrik kita masih datang dari darat.

Padahal, di bawah permukaan laut, ada energi besar yang terus bergerak tanpa henti, arus laut.

Teknologi untuk mengubah arus ini menjadi listrik sebenarnya sudah ada. Namanya Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut atau PLTAL. Prinsipnya mirip kincir angin, tapi dipasang di bawah air. Arus laut memutar turbin, lalu menghasilkan listrik.

Masalahnya, teknologi ini belum benar-benar dipakai serius di Indonesia.

Kenapa Belum Dipakai?

Menurut pemerhati energi sekaligus Ketua Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII), Sripeni Inten Cahyani, salah satu penyebabnya justru bukan teknis, melainkan kebijakan. Banyak proyek PLTAL sebelumnya gagal karena dicampur dengan urusan lain, seperti pembangunan jembatan atau akses infrastruktur.

Baca juga: Biar Awet Muda, Coba Hidup di Dekat Laut

Akibatnya, biaya proyek membengkak. Bukan karena listriknya mahal, tapi karena terlalu banyak beban yang ditumpuk ke pembangkitnya.

Padahal seharusnya, teknologi baru seperti PLTAL diuji dulu lewat proyek percontohan. Fokus pada apakah turbin bekerja, berapa listrik yang dihasilkan, dan seberapa stabil sistemnya. Bukan dibebani proyek lain sejak awal.

Ini penting, karena arus laut punya banyak keunggulan. Tidak tergantung cuaca harian. Tidak berhenti saat malam. Dan sangat cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia.

Saatnya Laut Bekerja

Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Selat Larantuka, atau kawasan sekitar Labuan Bajo punya arus laut kuat dan stabil. Itu lokasi ideal untuk PLTAL.

Kabar baiknya, pemerintah kini mulai bergerak.

Indonesia sedang menyiapkan PLTAL pertama dengan total kapasitas 40 megawatt. Proyek ini akan dibangun di dua lokasi, salah satunya di NTT. Nilai investasinya sekitar US$ 220 juta.

Baca juga: Tak Perlu BBM, Sulawesi hingga Timor Bisa Hidup dari Energi Alam

Sejumlah mitra asing dari Inggris dan Belanda juga ikut terlibat, bersama PT Pertamina Power Indonesia. Ini menunjukkan bahwa teknologi arus laut sebenarnya sudah cukup matang.

Yang masih jadi pertanyaan besar, apakah kebijakannya akan ikut matang?

Kalau proyek ini kembali dicampur dengan agenda lain, risiko kegagalannya akan sama seperti sebelumnya. Tapi jika pemerintah fokus menjadikannya proyek energi murni, PLTAL bisa jadi game changer.

Baca juga: Energi Biru, Cara Jepang Bikin Listrik dari Laut dan Sungai

Bayangkan, listrik di daerah wisata seperti Labuan Bajo suatu hari nanti dipasok dari lautnya sendiri. Tanpa asap. Tanpa suara mesin. Tanpa merusak pemandangan.

Di era krisis iklim dan kebutuhan listrik yang terus naik, energi laut bukan lagi ide futuristik.
Itu sudah ada.
Tinggal kemauan kita untuk memanfaatkannya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *