
BANYAK orang ingin jadi pemimpin.
Naik jabatan. Punya tim. Mengambil keputusan.
Tapi satu hal sering luput,
memimpin bukan soal posisi.
Buku The Art of Caring Leadership karya Ade Noerwenda datang dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan tentang cara naik level lebih cepat, tapi tentang bagaimana kita hadir, dan memperlakukan manusia, dalam setiap keputusan.
Dan justru di situlah, kepemimpinan dimulai.
Bukan Tentang Jabatan
Buku ini tidak dibangun dari teori ruang kelas. Tapi, lahir dari pengalaman panjang Ade Noerwenda di dunia hospitality. Mulai dari Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, hingga memimpin fungsi Human Resources di Accor Indonesia, Malaysia, dan Singapura, sebelum akhirnya menjadi COO di Ashley Hotel Group.
Namun alih-alih membangun narasi prestasi, buku ini justru membongkar satu hal mendasar,
kepemimpinan bukan tentang posisi.
Tapi, tentang bagaimana seseorang hadir dan memperlakukan orang lain.
Baca juga: Leadership Bukan Jabatan, Buku ‘The Art of Caring Leadership’ Diluncurkan
Di banyak organisasi, kepemimpinan sering diukur dari struktur dan jabatan. Tapi, buku ini menggeser sudut pandang itu. Bahwa seseorang bisa saja punya posisi tinggi, tapi tidak benar-benar memimpin.
Sebaliknya, seseorang tanpa jabatan pun bisa menjadi pemimpin, melalui pilihan, sikap, dan kehadirannya setiap hari.
Kehadiran yang Utuh
Salah satu gagasan paling kuat dalam buku ini adalah konsep presence, kehadiran yang utuh.
Bukan sekadar hadir secara fisik, tapi benar-benar ada secara emosional dan mental. Mendengar, memahami, dan berjalan bersama.
Dalam salah satu cerita, Ade menggambarkan momen ketika ia memilih menyusuri jalur pipa air di sebuah desa di Sulawesi, bukan hanya melihat hasil proyek dari kejauhan. Dari sana, ia memahami satu hal penting, pemahaman tidak datang dari laporan, tapi dari pengalaman langsung.
Di titik itu, kepemimpinan berubah.
Dari mengawasi menjadi memahami.
Dari memberi instruksi menjadi membangun kepercayaan.
Kepedulian sebagai Kekuatan
Banyak orang masih melihat kepedulian sebagai sesuatu yang “lembut”. Tidak cukup tegas. Tidak cukup kuat.
Buku ini justru menunjukkan sebaliknya.
Baca juga: Jelang Peluncuran, Buku ‘The Art of Caring Leadership’ Angkat Kepemimpinan Berbasis Kepedulian
Di dunia hospitality, industri yang sangat bergantung pada pengalaman manusia, kepedulian bukan sekadar nilai, tapi kekuatan strategis. Kepedulian membentuk budaya kerja, membangun rasa memiliki, dan pada akhirnya memengaruhi kinerja.
Ketika orang merasa diperhatikan, mereka tidak hanya bekerja. Mereka berkontribusi.
Ketika pemimpin hadir secara nyata, kepercayaan tumbuh. Dan dari kepercayaan, organisasi bergerak lebih jauh dari sekadar target.

Leadership sebagai Pilihan
Satu benang merah yang terus muncul dalam buku ini adalah, kepemimpinan adalah pilihan.
Pilihan untuk mendengarkan.
Pilihan untuk memahami sebelum menilai.
Pilihan untuk hadir, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Baca juga: Kepemimpinan Berbasis Kepedulian sebagai Kebutuhan Baru
Buku ini tidak menawarkan jawaban instan. Tidak ada langkah-langkah cepat menjadi pemimpin sukses. Justru sebaliknya, pembaca diajak berhenti, merefleksikan, dan melihat kembali cara mereka memimpin selama ini.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang apa yang kita capai.
Tapi, tentang siapa yang bertumbuh bersama kita.
Lebih dari Sekadar Buku Leadership
The Art of Caring Leadership bukan buku yang dibaca untuk mencari “tips memimpin”.
Buku ini lebih dekat dengan ruang refleksi.
Di dalamnya ada cerita, pengalaman, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu nyaman, tapi relevan. Terutama di tengah dunia kerja yang semakin cepat, kompetitif, dan sering kali kehilangan sisi manusiawinya.
Buku ini seperti pengingat, bahwa di balik target, struktur, dan strategi, selalu ada manusia. Dan di situlah kepemimpinan seharusnya dimulai.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak kekurangan pemimpin.
Kita hanya terlalu sering melupakan satu hal yang paling mendasar, kepedulian. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.