Maskapai Patungan Bikin “Bensin Hijau” Buat Pesawat

Dari jelantah ke alga, inilah langkah maskapai global menuju penerbangan berkelanjutan. Foto:Ilustrasi/ Pixabay/ Pexels.

INDUSTRI penerbangan lagi panas-panasnya ngomongin polusi. Maklum, pesawat jadi penyumbang 2–3 persen emisi global. Nah, enam maskapai besar dunia baru saja sepakat bikin patungan senilai 150 juta dolar AS buat ngejar solusi: bahan bakar penerbangan berkelanjutan alias Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Patungan ini diberi nama oneworld BEV Fund. Dana ini bakal dikelola oleh Breakthrough Energy Ventures (BEV), perusahaan investasi yang fokus pada isu iklim dan didukung Bill Gates. Tujuannya simpel, gimana caranya bikin “bensin hijau” buat pesawat, tapi harganya tetap masuk akal dan bisa dipakai tanpa ubah mesin.

Siapa Aja yang Ikut?

Investor utama datang dari Alaska Airlines dan American Airlines. Di belakangnya, ada juga British Airways (lewat IAG), Cathay Pacific, Japan Airlines, dan Singapore Airlines. Dengan patungan ini, mereka berharap biaya riset bisa ditekan dan produksi SAF jadi lebih masif.

Baca juga: NASA Investasi 11,5 Juta Dolar AS Demi Penerbangan tanpa Emisi

Melansir Know ESG (19/9/2025), para bos maskapai sepakat kalau kerja sendirian itu berat. Kontrak individual dengan produsen SAF ternyata mahal dan hasilnya juga belum signifikan. Jadi, kolektif fund dipilih sebagai cara paling realistis untuk bikin SAF lebih gampang diakses.

Realita SAF Sekarang

Walau hype-nya tinggi, SAF yang ada sekarang masih terbatas banget. Sumbernya kebanyakan dari minyak jelantah atau tanaman seperti kedelai dan tebu. Tahun 2024, menurut data International Air Transport Association (IATA), cuma ada 1 juta ton SAF yang diproduksi. Itu setara 0,3 persen dari total kebutuhan bahan bakar jet dunia.

Enam maskapai dunia sepakat patungan USD 150 juta lewat oneworld BEV Fund untuk dorong lahirnya bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). Targetnya jelas: kurangi emisi 2–3% dari sektor aviasi yang kini masih bergantung pada fosil. Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Tahun 2025 diprediksi naik jadi 2,1 juta ton. Tapi, kebutuhan industri penerbangan global jauh lebih besar. Jadi, jelas banget kalau stok SAF masih jauh dari kata cukup.

Dari Jelantah ke Alga

BEV punya rencana berbeda. Mereka nggak lagi fokus ke biofuel lama yang mahal dan sulit diproduksi besar-besaran. Fokus riset diarahkan ke alga air asin yang direkayasa serta bahan bakar sintetis berbasis hidrogen dan karbon dioksida.

Baca juga: Krisis Iklim, Turbulensi Jadi Mimpi Buruk Baru di Langit

Teknologi ini diharapkan bisa kasih opsi bahan bakar murah, ramah lingkungan, dan langsung bisa dipakai di mesin pesawat yang ada sekarang. Jadi, nggak perlu biaya tambahan buat modifikasi armada.

Target Nol Emisi

Maskapai jelas punya deadline. Alaska Airlines pasang target nol emisi tahun 2040, sementara American Airlines membidik 2050. Beberapa sudah jalan duluan, kayak American Airlines yang investasi 75 juta dolar AS ke perusahaan SAF asal Texas, Infinium.

Baca juga: Jejak Emisi Kelas Atas: Ironi Private Jet dan Beban Lingkungan

Tapi, tanpa terobosan besar, target-target ini bakal jadi mimpi doang. SAF generasi baru yang dibiayai lewat oneworld BEV Fund diharapkan bisa jadi game-changer.

Relevansi Buat Kita

Indonesia punya pasar penerbangan domestik yang super sibuk. Kalau SAF jadi mainstream, tekanan buat ikut adopsi pasti gede. Bukan cuma soal citra hijau, tapi juga soal persaingan global.

Kalau maskapai dunia bisa patungan untuk cari solusi, kenapa kita nggak bisa bikin langkah serupa? Kolaborasi antar-BUMN aviasi atau dengan swasta bisa jadi opsi. Kalau enggak, bisa-bisa kita cuma jadi penonton di era transisi energi ini. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *