
JAKARTA, mulamula.id – Di tengah peluncuran buku The Art of Caring Leadership karya Ade Noerwenda di Ruang Belajar Alex Tilaar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026), satu gagasan yang disampaikan Wulan Tilaar terasa menonjol. Bukan soal jabatan. Bukan pula semata tentang target bisnis. Yang ia tekankan justru hal yang paling mendasar dalam kepemimpinan, memanusiakan manusia.
Bagi Direktur Martha Tilaar Spa dan Puspita Martha International Beauty School itu, kepemimpinan tidak bisa dijalankan dengan cara memandang karyawan hanya sebagai mesin kerja. Perusahaan, menurut dia, dibangun oleh manusia dengan emosi, beban, harapan, dan kebutuhan yang nyata. Karena itu, pemimpin harus memiliki empati, memberi ruang bertumbuh, dan memastikan orang-orang di dalam organisasi tetap merasa dihargai.
Baca juga: Leadership Bukan Jabatan, Buku ‘The Art of Caring Leadership’ Diluncurkan
Pandangan itu sejalan dengan semangat besar buku The Art of Caring Leadership, Seni Memimpin dengan Kepedulian, yang diluncurkan hari itu. Buku tersebut menempatkan kepedulian sebagai inti kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya piawai mengambil keputusan, tetapi juga harus mampu menjaga martabat orang-orang yang dipimpinnya.
Belajar dari Rumah
Wulan menunjukkan bahwa nilai itu bukan muncul tiba-tiba. Ia bertumbuh dari lingkungan keluarga yang memberinya fondasi kuat tentang cara memandang manusia. Dari ayahnya, Prof. H.A.R. Tilaar, ia belajar menjadi pribadi yang humanis, menghargai hal-hal kecil, dan menjalani hidup dengan kasih dalam tindakan sederhana. Dari ibunya, Martha Tilaar, ia belajar tentang ketangguhan, disiplin, dan daya tahan dalam menghadapi tekanan.
Dua arus nilai itu kemudian membentuk watak kepemimpinan Wulan. Di satu sisi, ia menempatkan empati sebagai unsur penting. Di sisi lain, ia tetap memegang ketegasan sebagai bagian dari tanggung jawab pemimpin. Ia tidak ingin perusahaan terlihat sehat, tetapi orang-orang di dalamnya justru stres, sakit, dan kehilangan kebahagiaan.
Kepemimpinan Berbasis Empati
Dalam praktiknya, Wulan tidak sekadar bicara konsep. Ia menerjemahkan empati ke dalam cara memimpin sehari-hari. Ia ingin karyawan merasa didengar, dihargai, dan punya ruang untuk berkembang. Bagi dia, produktivitas tidak bisa dipisahkan dari kebahagiaan.
Baca juga: Memimpin Bukan Soal Posisi, tapi Cara Kita Hadir
Pandangan ini juga menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal gender. Ia lahir dari tradisi perusahaan yang didirikan oleh perempuan dan kini diteruskan oleh perempuan. Namun bagi Wulan, yang terpenting adalah kemampuan menjadi teladan, memberi kontribusi, dan mengayomi banyak orang.
Pemimpin, dalam pandangannya, adalah role model yang mampu mengelola dirinya sendiri sekaligus menghadirkan rasa aman bagi timnya.

Ujian di Masa Krisis
Nilai-nilai itu diuji ketika pandemi COVID-19 datang. Dunia usaha terpukul. Tekanan datang dari berbagai arah. Dalam situasi itu, Wulan harus mengambil keputusan yang tidak mudah, termasuk pemotongan gaji.
Keputusan itu bukan sekadar langkah bisnis. Itu adalah beban moral. Di baliknya ada pertimbangan besar, bagaimana menjaga perusahaan tetap hidup tanpa harus kehilangan lebih banyak karyawan.
Baca juga: Kepemimpinan Berbasis Kepedulian sebagai Kebutuhan Baru
Di titik ini, caring leadership tidak lagi terdengar sebagai konsep ideal. Ia menjadi realitas yang penuh dilema. Kepemimpinan diuji bukan saat kondisi normal, tetapi saat harus memilih di antara pilihan-pilihan yang sama-sama berat.
Bertumbuh dari Proses
Menjadi penerus dalam perusahaan besar juga bukan perjalanan yang ringan. Ekspektasi tinggi dan perbandingan dengan pendahulu menjadi tantangan tersendiri. Wulan tidak melawan tekanan itu dengan ambisi instan.
Ia memilih bertumbuh lewat proses. Belajar. Mengenali diri sendiri. Memperbaiki apa yang kurang.
Baginya, perubahan tidak bisa dimulai dari orang lain. Harus dari diri sendiri. Cara pandang ini kemudian tercermin dalam budaya kerja yang ia bangun. Ia memberi ruang bagi tim untuk berbicara, menyampaikan ide, dan ikut berpikir bersama.
Ia menolak budaya “asal ibu senang”. Kreativitas, menurutnya, hanya bisa tumbuh jika orang diberi kebebasan untuk berpendapat. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.