Pagi Ini Timeline Sepi, Australia Mulai Nonaktifkan Jutaan Akun Remaja

Layar ponsel yang mendadak kosong jadi gambaran pagi di Australia, setelah jutaan akun remaja di bawah 16 tahun dinonaktifkan menyusul aturan baru pemerintah. Foto: Ilustrasi/ Katrin Bolovtsova/ Pexels.

CANBERRA – Australia bikin kejutan. Mulai Rabu, 10 Desember 2025, semua anak dan remaja di bawah 16 tahun resmi dilarang punya akun media sosial. Dampaknya langsung terasa. Timeline di negeri itu mendadak lebih senyap karena jutaan akun remaja menghilang dalam sehari.

Instagram, TikTok, YouTube, Snapchat, Threads, Reddit, hingga Twitch mengonfirmasi hal yang sama: mereka sudah menutup akses. Akun lama dibekukan. Akun baru otomatis ditolak. Tidak ada hukuman untuk orang tua atau anak, tapi platform yang melanggar aturan ini bisa kena denda sampai 49,5 juta dolar Australia (setara Rp 548 miliar).

Tujuannya, kata pemerintah, bukan buat drama. Tapi untuk menutup celah yang selama ini jadi pintu bagi kecanduan layar, tekanan sosial, dan gangguan kesehatan mental di usia yang masih rapuh.

Kenapa Sampai Segitunya?

Australia sudah lama gelisah dengan efek toksik medsos pada remaja. Alarmnya makin keras setelah serangkaian laporan menyebut:

  • 96% anak usia 10–15 tahun aktif di medsos,
  • 7 dari 10 terpapar konten berbahaya, dari misogini sampai materi pro bunuh diri,
  • 1 dari 7 mengalami grooming,
  • lebih dari separuh pernah jadi korban cyberbullying.

Baca juga: Mengungkap Fenomena “Kebahagiaan Palsu” di Media Sosial

Dalam pidatonya, Perdana Menteri Anthony Albanese menyebut kebijakan ini sebagai “perubahan sosial terbesar dalam sejarah anak muda Australia.” Ia bilang banyak orang tua yang datang padanya dengan cerita memilukan, tentang anak yang kecanduan layar, kehilangan kepercayaan diri, sampai kasus paling tragis yang merenggut nyawa.

“Kami lakukan ini untuk para orang tua. Media sosial punya tanggung jawab sosial. Dan itu dimulai dengan melindungi anak-anak,” kata Albanese.

Efek Domino ke Seluruh Dunia

Langkah Australia langsung menarik perhatian global. Malaysia, Denmark, dan Norwegia memberi sinyal untuk ikut. Uni Eropa sedang menyusun batasan usia baru. Inggris mengatakan mereka “mengamati dengan cermat.”

Baca juga: Australia Larang Remaja di Bawah 16 Tahun Akses Media Sosial

Akademisi dari New York University, Michael Posner, menyebut langkah Australia ini sebagai “studi kasus super penting” untuk negara lain. Kalau berhasil menekan masalah kesehatan mental dan kekerasan digital, banyak pemerintahan lain diyakini bakal ikut.

Buat Gen Z dan Gen Alpha, ini Era Baru?

Larangan ini bukan sekadar soal umur. Ini soal masa kecil yang lebih utuh, screen time yang lebih sehat, dan realita bahwa ruang digital butuh perombakan besar. Remaja Australia kini memasuki masa adaptasi, dan dunia sedang menunggu, apakah kebijakan ini akan menciptakan generasi yang lebih aman, atau justru memunculkan tantangan baru?

Yang jelas, pagi ini timeline Australia sedang… sunyi. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *