
JAKARTA, mulamula.id – Pasar modal Indonesia kembali dapat sinyal kuning dari lembaga pemeringkat global. Kali ini datang dari FTSE Russell, yang memutuskan menunda evaluasi indeks saham Indonesia hingga pertengahan 2026.
Keputusan itu diumumkan Selasa (10/2). Artinya, tidak ada rebalancing indeks pada April 2026. FTSE menilai masih ada ketidakpastian serius dalam reformasi pasar modal Indonesia, terutama soal free float dan potensi gangguan likuiditas selama proses perubahan berlangsung.
Ini bukan kejutan tunggal. Beberapa pekan sebelumnya, MSCI juga mengambil langkah serupa dengan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham Indonesia.
Dua sinyal, satu pesan bahwa investor global masih ragu.
Free Float Jadi Titik Lemah
Sorotan utama FTSE Russell ada pada ketidakjelasan penentuan free float, porsi saham yang benar-benar beredar dan bisa diperdagangkan publik.
Menurut FTSE, ketidakpastian ini berisiko mengganggu volume perdagangan dan stabilitas pasar. Karena itu, seluruh perubahan indeks ditahan sementara.
Baca juga: Ada Apa dengan Pasar Modal Indonesia di Mata Dunia?
Yang ditunda bukan hal kecil. Mulai dari:
- Penambahan saham baru, termasuk dari IPO
- Penghapusan saham hasil evaluasi
- Perubahan klasifikasi emiten (large, mid, small cap)
- Penyesuaian bobot investasi
- Rights issue dalam perhitungan indeks
Namun tidak semuanya berhenti total. Penghapusan saham akibat merger, akuisisi, suspensi panjang, kebangkrutan, atau delisting tetap diproses. Begitu juga stock split, saham bonus, spin-off wajib, dan pembagian dividen.
FTSE memastikan keputusan ini tidak memengaruhi status klasifikasi negara, yang akan tetap diumumkan pada 7 April 2026. Review berikutnya dijadwalkan Juni 2026, dengan pengumuman awal pada 22 Mei.
Jejak MSCI yang Lebih Dulu Rem
Langkah FTSE memperpanjang daftar keraguan investor global. Akhir Januari lalu, MSCI menyatakan telah menyelesaikan konsultasi soal free float saham Indonesia, dan hasilnya belum sepenuhnya meyakinkan.
Baca juga: MSCI Rem Pasar Saham Indonesia, Isu Transparansi Bikin Investor Global Waspada
Investor global menyoroti penggunaan data Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai dasar penghitungan free float. Sebagian mendukung, tapi banyak yang menilai transparansinya belum cukup kuat.
Masalah lain yang disorot:
- Struktur kepemilikan saham yang kurang terbuka
- Konsentrasi kepemilikan yang tinggi
- Kekhawatiran perilaku perdagangan terkoordinasi
- Risiko pembentukan harga yang tidak sehat
Meski begitu, MSCI mengakui ada perbaikan kecil pada data saham beredar di Bursa Efek Indonesia. Namun, investor menilai perbaikan itu belum cukup untuk menghapus keraguan besar.
Kenapa Ini Penting Buat Investor Muda?
Buat investor ritel, termasuk Gen Z, isu ini terdengar teknis. Tapi dampaknya nyata.
Indeks global seperti MSCI dan FTSE jadi rujukan dana asing. Ketika evaluasi ditunda atau dibekukan, arus modal bisa tertahan. Likuiditas menipis. Volatilitas meningkat.
Baca juga: Empat Bos OJK Mundur Sehari, Pasar Modal RI Lagi Kenapa?
Singkatnya, bukan soal reputasi semata, tapi kepercayaan.
Pasar modal Indonesia sedang diuji, bukan oleh sentimen sesaat, tapi oleh standar global. Dan sampai reformasi benar-benar transparan dan konsisten, lampu hijau dari investor dunia tampaknya masih belum menyala. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.