PLTN dan Laut, Pelajaran dari Proyek Nuklir Hinkley Point C

Proyek PLTN Hinkley Point C di Inggris, yang mengembangkan sistem pengambilan air laut ramah ekosistem, termasuk teknologi penangkal ikan berbasis suara. Foto: @hinkleypointc.

PEMBANGKIT listrik tenaga nuklir (PLTN) kerap dipandang sebagai solusi energi bersih masa depan. Emisinya rendah. Pasokannya stabil. Tapi, ada satu pertanyaan yang sering luput, bagaimana dampaknya ke laut?

Pertanyaan itu kini diuji di Hinkley Point C, proyek PLTN terbesar Inggris yang dibangun di pesisir Somerset. Di sinilah isu energi dan ekosistem laut bertemu secara langsung.

PLTN membutuhkan air laut dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan. Risiko utamanya jelas, ikan dan biota laut bisa tersedot ke dalam pipa pengambilan air. Jika tak dikelola, dampaknya bisa sistemik.

Untuk menjawab tantangan itu, operator proyek, EDF, memasang teknologi yang terdengar unik, acoustic fish deterrent. Sistem ini memancarkan gelombang suara tertentu untuk menjauhkan ikan dari area berbahaya. Karena efek visualnya mirip lampu pesta bawah air, teknologi ini dijuluki “fish disco.”

Baca juga: 2025, Tahun Rekor Energi Nuklir Dunia

Hasil awalnya cukup meyakinkan. Studi lapangan menunjukkan ikan shad, salah satu spesies yang dimonitor, cenderung menghindari area hingga puluhan meter dari mulut pipa ketika sistem diaktifkan. Tanpa teknologi ini, ikan justru sering mendekat. Secara tahunan, sistem tersebut diperkirakan mampu menyelamatkan puluhan ton ikan.

Artinya, mitigasi dampak lingkungan tidak selalu harus menunggu kerusakan terjadi. Pencegahan sejak awal terbukti lebih efektif dibanding kompensasi belakangan.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Energi Bersih, tapi Tetap Perlu Pagar Pengaman

Kasus Hinkley Point C memberi pesan penting, energi rendah karbon bukan berarti bebas dampak lingkungan. Bahkan teknologi yang dianggap “bersih” tetap membutuhkan pagar pengaman ekologis, terutama jika beroperasi di wilayah sensitif seperti pesisir.

Baca juga: Bank Dunia Longgarkan Larangan Nuklir

Pendekatan ini juga menarik dari sisi kebijakan. Dalam skema proyek tersebut, biaya tambahan teknologi perlindungan ikan tidak dibebankan ke konsumen, melainkan ditanggung oleh perusahaan. Artinya, risiko lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab bisnis, bukan dilempar ke publik.

Kenapa Ini Relevan untuk Indonesia?

Isu ini menjadi semakin dekat ketika Indonesia mulai membuka wacana serius soal nuklir. Pemerintah menyebut rencana pembangunan PLTN berkapasitas 7 Giga Watt (GW) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan nuklir dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi energi rendah karbon, meski masih menuai perdebatan. Di saat bersamaan, Kementerian ESDM tengah menyiapkan regulasi khusus sebagai payung pengembangan PLTN.

Baca juga: Laut Jawa Kian Sepi Ikan, Alarm Serius bagi Nelayan dan Lingkungan

Pelajaran dari Inggris menjadi relevan di sini. Jika Indonesia benar-benar masuk ke era nuklir, isu lingkungan, termasuk perlindungan ekosistem laut, perlu dipikirkan sejak awal. Bukan sebagai tambahan belakangan, tetapi sebagai bagian dari desain kebijakan.

Hinkley Point C menunjukkan satu hal sederhana tapi penting, energi masa depan bukan hanya soal listrik yang dihasilkan, tapi juga tentang bagaimana alam dijaga di sekitarnya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *