PLTS 100 GW, Indonesia Bisa Hemat Rp21 T dan Buka 118 Ribu Green Jobs

PLTS skala desa di Papua Barat. Program 100 GW ditargetkan menjangkau ribuan wilayah terpencil dengan listrik yang lebih stabil dan terjangkau. Foto: Dok. PLN.

INDONESIA lagi menatap matahari dengan cara berbeda.

Bukan cuma soal panasnya. Tapi soal listrik, kerjaan baru, dan masa depan energi. Pemerintah mendorong program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Angkanya besar. Dampaknya juga.

Kalau berjalan sesuai rencana, program ini bisa menciptakan 118 ribu lapangan kerja hijau dan menurunkan emisi hingga 24 juta ton karbon. Bukan cuma itu. Subsidi BBM juga berpotensi hemat sampai Rp21 triliun.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyebut energi surya plus baterai sekarang bukan cuma bersih. Tapi juga paling ekonomis.

Baca juga: Tak Perlu BBM, Sulawesi hingga Timor Bisa Hidup dari Energi Alam

Harga panel surya turun 90 persen dalam 10 tahun terakhir. Harga baterai lithium kini di kisaran 70–90 dolar AS per kWh. Artinya, listrik dari matahari plus penyimpanan baterai bisa lebih murah dari gas. Bahkan lebih murah dari batu bara.

80 Ribu Desa Jadi Target

Program ini tidak cuma menyasar kota besar. Sebanyak 80 GW dirancang untuk 80 ribu desa. Setiap desa ditargetkan punya PLTS 1 megawatt.

Sistemnya pakai baterai penyimpanan energi. Total kapasitasnya mencapai 320 GWh. Pengelolaannya dirancang lewat koperasi desa merah putih.

Baca juga: PLTS Sasar 80 Ribu Desa, Saatnya Bilang Bye ke Batu Bara?

Kenapa desa penting?

IESR mencatat masih ada sekitar 16.700 desa yang kekurangan listrik. Banyak warga masih bergantung pada pembangkit diesel. Biayanya mahal. Pasokannya juga tidak selalu stabil.

Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Dengan PLTS dan sistem baterai, biaya listrik bisa di kisaran 10–15 sen dolar per kWh. Itu 30–60 persen lebih murah dibandingkan diesel.

Listrik lebih stabil berarti peluang ekonomi ikut tumbuh. UMKM bisa pakai mesin pendingin. Petani bisa simpan hasil panen lebih lama. Warung dan bengkel bisa beroperasi tanpa takut listrik mati.

Bukan Cuma Soal Listrik

Program 100 GW juga bisa menggerakkan industri dalam negeri. Skala sebesar ini menciptakan kepastian pasar. Investor manufaktur panel surya dan rantai pasok energi terbarukan bisa masuk.

Baca juga: PLTS Atap Kian Diminati, PLN Akui Ada Risiko ke Jaringan Listrik

Artinya, nilai tambah tidak cuma di pemasangan panel. Tapi juga di produksi dan distribusi.

Instalasi PLTS di Papua. Energi surya plus baterai dinilai lebih murah dibandingkan listrik diesel yang selama ini dipakai di banyak desa terpencil. Foto: Dok. PLN.

Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kemenko Perekonomian, Sunandar, menyebut program ini bisa jadi fondasi pertumbuhan baru. Indonesia ingin tumbuh tanpa menaikkan intensitas karbon.

Indonesia sebenarnya punya potensi energi surya mencapai 7,7 terawatt. Jadi 100 GW masih sebagian kecil dari kemampuan teknis yang ada.

Baca juga: Menuju 2050, Mampukah Indonesia Capai 100% Energi Terbarukan?

Tantangannya sekarang bukan lagi soal teknologi. Tapi soal eksekusi. Pembiayaan, jaringan listrik, standar baterai, dan tata kelola desa harus berjalan bareng.

Kalau berhasil, PLTS 100 GW bukan cuma proyek energi. Tapi, langkah besar menuju ekonomi hijau yang lebih mandiri dan murah. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *