Prancis Ajak Warganya Kurangi Daging, Ini Dampaknya ke Iklim

Daging merah dan menu berbasis sayuran. Pemerintah Prancis mendorong pembatasan konsumsi daging demi kesehatan dan pengendalian emisi karbon. Foto: Ilustrasi.

PEMERINTAH Prancis resmi mengajak warganya membatasi konsumsi daging. Bukan cuma soal kesehatan. Tapi juga demi menyelamatkan iklim.

Seruan ini tertuang dalam dokumen National Strategy for Food, Nutrition and Climate. Isinya jelas, pola makan harus berubah jika negara ingin menekan emisi gas rumah kaca hingga 2030.

Langkah ini langsung memicu perdebatan. Wajar saja. Prancis dikenal dengan kuliner berbasis daging seperti steak-frites dan beef bourguignon. Mengubah pola makan di negara dengan tradisi kuat seperti itu bukan perkara mudah.

Kenapa Daging Jadi Sorotan?

Alasannya sederhana, emisi.

Produksi pangan menyumbang sekitar seperempat emisi karbon nasional Prancis. Dari jumlah itu, sekitar dua pertiganya berasal dari produksi daging.

Baca juga: Ada Mikroplastik di Perut Sapi, Dampaknya Bisa Balik ke Kita

Peternakan sapi menghasilkan metana. Gas ini punya dampak pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Artinya, semakin tinggi konsumsi daging, semakin besar tekanan terhadap iklim.

Karena itu, pedoman baru mendorong masyarakat memperbanyak buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Daging tetap boleh dikonsumsi, tapi porsinya dibatasi. Termasuk daging olahan.

Perdebatan Tak Terhindarkan

Sejak awal, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Lobi pertanian menilai langkah pemerintah bisa mengganggu mata pencaharian peternak dan industri daging.

Di sisi lain, kelompok kesehatan publik menyambut baik kebijakan ini. Mereka menilai konsumsi daging merah berlebihan memang berisiko bagi kesehatan.

Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.

Bahkan, pemerintah sempat bingung memilih kata. Apakah masyarakat diminta “mengurangi” atau hanya “membatasi” daging? Akhirnya dipilih istilah “membatasi”. Lebih kompromistis, tapi tetap memberi sinyal perubahan.

Beda Arah dengan Amerika

Menariknya, kebijakan Prancis muncul di tengah dinamika global. Di Amerika Serikat, pemerintahan di bawah Presiden Donald Trump justru mendorong konsumsi daging merah dan produk susu penuh lemak.

Dua negara maju. Dua arah kebijakan berbeda.

Baca juga: Pola Makan Nabati, Solusi Strategis Mengatasi Perubahan Iklim

Ini menunjukkan bahwa isu pangan bukan sekadar soal menu makan. Tapi juga menyentuh politik, ekonomi, bahkan identitas budaya.

Relevan untuk Indonesia?

Indonesia mungkin belum sampai pada tahap membatasi konsumsi daging secara nasional. Namun, isu ini pelan-pelan masuk diskusi global.

Sektor pertanian dan peternakan juga berkontribusi pada emisi. Di sisi lain, kelas menengah Indonesia terus tumbuh. Konsumsi protein hewani ikut naik.

Pertanyaannya, apakah pola makan masa depan akan ikut berubah?

Baca juga: Gaya Hidup Laki-laki Lebih Merusak Lingkungan

Langkah Prancis memberi pesan jelas. Perubahan iklim tidak hanya ditangani lewat energi dan transportasi. Apa yang ada di piring kita juga ikut menentukan.

Dan mungkin, diskusi soal diet rendah emisi hanya soal waktu sebelum benar-benar masuk ke meja makan kita. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *