
PERNAH dengar istilah rare earth atau logam tanah jarang? Mineral ini bukan sekadar bongkahan batu tambang. Di balik bentuknya yang biasa saja, tersimpan “harta karun” abad 21. Kenapa? Karena rare earth adalah bahan penting di balik banyak teknologi masa kini. Mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, turbin angin, sampai perlengkapan militer.
Indonesia ternyata punya cadangan besar. Dan sekarang, pemerintah bilang, pengelolaan rare earth hanya boleh dilakukan negara, bukan swasta.
Negara Turun Tangan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, logam tanah jarang terlalu strategis untuk dilepas ke pasar bebas. “Pengelolaannya akan dilakukan negara. Kita siapkan tata kelolanya sendiri,” ujarnya di Jakarta.
Baca juga: Prabowo Perintahkan Sapu Bersih Mafia Tambang Ilegal
Artinya, rare earth diperlakukan sebagai senjata strategis. Bukan cuma untuk dijual, tapi untuk memperkuat posisi Indonesia di level global.
Lahirnya Badan Industri Mineral
Untuk mewujudkan ambisi itu, Presiden Prabowo Subianto membentuk Badan Industri Mineral (BIM). Lembaga ini punya misi khusus: riset, pengembangan, dan penguatan industri berbasis rare earth.

Yang menarik, pimpinan badan ini bukan orang sembarangan. Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ditunjuk langsung sebagai kepala. Ia adalah Guru Besar ITB yang akrab dengan dunia riset.
Baca juga: Darurat Ekologi, Satwa Liar Terjepit di Tengah Sawit dan Tambang
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, BIM akan fokus pada tiga hal:
- Melindungi mineral strategis dari penyelundupan.
- Mengidentifikasi cadangan nasional.
- Mendorong riset agar mineral bisa diolah jadi produk bernilai tinggi.
Perebutan Global
Kenapa rare earth begitu heboh? Karena hampir semua negara maju membutuhkannya. Tiongkok menguasai lebih dari 70% pasokan dunia. Amerika, Jepang, hingga Eropa kini sibuk mencari sumber lain. Di peta persaingan itu, Indonesia punya posisi penting. Tapi, ada tantangan besar. Proses pemisahan rare earth sangat rumit, sering hadir sebagai mineral ikutan emas, timah, atau bauksit. Ditambah lagi, limbah radioaktif yang harus dikelola dengan serius.
Bukan Sekadar Tambang
Rare earth bisa jadi titik balik. Indonesia tak lagi hanya ekspor bahan mentah, tapi juga masuk rantai pasok global. Dari energi terbarukan sampai alutsista modern, semua butuh mineral ini.
Baca juga: Gila, Pengusaha Ini Beli Hutan Supaya Tidak Ditebang
Namun, semua kembali pada eksekusi. Apakah BIM bisa jadi game changer? Atau sekadar lembaga baru tanpa taring?
Yang jelas, rare earth adalah “kartu as” yang bisa bikin Indonesia naik level. Bukan cuma di dunia tambang, tapi juga di peta teknologi global. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.