Salju Makin Langka, Olimpiade Musim Dingin Terancam

Jalur ski tetap dibuka di tengah gelombang panas musim dingin di Eropa pada Januari 2023, mencerminkan realitas krisis iklim dan makin langkanya salju alami. Foto: @Alex_Verbeek.

OLIMPIADE Musim Dingin selama ini identik dengan salju tebal dan pegunungan dingin. Namun, gambaran itu perlahan memudar. Perubahan iklim membuat salju alami kian sulit diprediksi. Dampaknya, masa depan Olimpiade Musim Dingin mulai dipertanyakan.

Penelitian terbaru menunjukkan jumlah lokasi yang layak menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin akan terus berkurang. Dari puluhan kawasan pegunungan dunia yang saat ini memiliki arena olahraga musim dingin, hanya sebagian yang diperkirakan masih aman secara iklim dalam beberapa dekade ke depan.

“Perubahan iklim akan mengubah lokasi di mana Olimpiade Musim Dingin bisa digelar. Itu tidak terhindarkan,” kata Daniel Scott, profesor dari University of Waterloo, seperti dikutip Associated Press.

Lokasi Makin Terbatas

Saat ini ada sekitar 93 lokasi pegunungan di dunia yang memiliki infrastruktur olahraga musim dingin tingkat elite. Namun pada 2050-an, jumlah lokasi yang masih memiliki suhu cukup dingin dan ketebalan salju memadai diperkirakan tinggal sekitar 52.

Baca juga: 451 Atlet Desak IOC Selamatkan Olimpiade dari Krisis Iklim

Situasinya bisa lebih buruk di akhir abad ini. Pada 2080-an, jumlah lokasi berpotensi menyusut hingga hanya sekitar 30, tergantung seberapa jauh dunia mampu menekan emisi karbon.

Tak sedikit kota yang dulu dikenal sebagai pusat olahraga musim dingin kini mulai tersisih. Beberapa wilayah di Prancis, Jerman, dan Rusia dinilai tak lagi stabil secara iklim. Kota-kota lain seperti Vancouver dan Oslo bahkan masuk kategori berisiko.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Salju Buatan Jadi Andalan

Untuk menutup kekurangan salju alami, penyelenggara Olimpiade semakin bergantung pada salju buatan. Teknologi ini bukan hal baru. Salju buatan sudah digunakan sejak Olimpiade Musim Dingin 1980 dan hampir sepenuhnya dipakai saat Beijing menjadi tuan rumah pada 2022.

Namun salju buatan bukan solusi tanpa masalah. Prosesnya membutuhkan air dan energi dalam jumlah besar. Untuk Olimpiade Musim Dingin di Italia, panitia memperkirakan perlu ratusan juta liter air hanya untuk menjaga lintasan ski tetap putih.

Baca juga: Perubahan Iklim Hancurkan Tradisi Salju 130 Tahun di Gunung Fuji

Masalahnya, banyak kawasan pegunungan justru mulai mengalami penurunan curah salju dan tekanan sumber air. Jika energi yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil, produksi salju buatan juga berkontribusi pada emisi karbon.

Jalur ski dengan salju buatan di kawasan pegunungan Beijing saat Olimpiade Musim Dingin 2022, di tengah minimnya salju alami akibat kenaikan suhu. Foto: Kyodo/dpa/picture alliance.
Olimpiade dan Jejak Iklim

Bukan hanya soal salju. Olimpiade Musim Dingin juga membawa dampak iklim dari mobilitas global atlet dan penonton, pembangunan infrastruktur, hingga konsumsi energi besar selama ajang berlangsung.

Karena itu, Komite Olimpiade Internasional mulai mempertimbangkan langkah baru. Mulai dari membatasi jumlah cabang olahraga, mengurangi jumlah atlet dan penonton, hingga merotasi lokasi tuan rumah agar tidak terus membangun fasilitas baru.

Baca juga: Gurun Saja Bisa Bersalju, Masih Mau Bilang Krisis Iklim itu Mitos?

Bahkan, opsi menggelar Olimpiade di waktu yang lebih awal juga mulai dibahas.

Alarm dari Pegunungan

Krisis salju ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan isu jauh. Ia sudah memengaruhi ajang olahraga terbesar dunia. Jika suhu terus naik, Olimpiade Musim Dingin mungkin tetap berlangsung, tetapi tidak lagi seperti yang kita kenal hari ini.

Salju tak lagi bisa dianggap sebagai hal yang pasti. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *