Setelah Diperingatkan MSCI, Ini Jurus Otoritas Selamatkan Reputasi Pasar Modal RI

Regulator pasar modal menyampaikan langkah pembenahan di Gedung BEI, Jakarta, sebagai respons atas evaluasi lembaga indeks global terhadap pasar Indonesia. Foto: OJK.

JAKARTA, mulamula.id Alarm dari pasar global sudah berbunyi. MSCI menahan rebalancing, Morgan Stanley dan Goldman Sachs menurunkan pandangan. Pasar langsung bereaksi keras. IHSG sempat ambruk lebih dari 8% hanya dalam dua hari.

Tapi setelah guncangan itu, otoritas pasar modal Indonesia tidak tinggal diam.

Serangkaian langkah cepat diumumkan. Fokusnya satu, memulihkan kepercayaan investor global terhadap kualitas pasar Indonesia.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi ada masalah atau tidak.
Pertanyaannya, apakah perbaikannya cukup cepat dan cukup dalam?

Transparansi Free Float Jadi Titik Awal

Masalah utama yang disorot MSCI adalah tingginya konsentrasi kepemilikan saham dan kualitas free float, porsi saham yang benar-benar beredar di publik.

BEI bergerak lebih dulu. Bursa berjanji meningkatkan transparansi data, termasuk mulai memublikasikan data free float secara komprehensif dan rutin setiap bulan.

Baca juga: Free Float Naik 15%, OJK Benahi Pasar Saham

Langkah ini penting. Investor global butuh kepastian bahwa angka kepemilikan publik bukan sekadar formalitas, tapi mencerminkan likuiditas nyata di pasar.

Namun, transparansi saja belum cukup jika struktur kepemilikannya masih timpang.

OJK Siapkan Aturan Lebih Keras

Di sinilah OJK masuk dengan pendekatan yang lebih tegas.

Regulator berencana mewajibkan free float minimal 15% bagi emiten. Perusahaan yang tak mampu memenuhi ketentuan ini bisa menghadapi mekanisme pengawasan ketat hingga exit policy dari bursa.

Jika benar ditegakkan, aturan ini bisa mengubah wajah pasar modal Indonesia. Selama ini banyak saham berkapitalisasi besar tapi dengan porsi publik sangat tipis. Likuiditas terlihat besar, tapi tidak dalam.

Baca juga: Pasar Saham RI Digoyang Lembaga Global, Investor Asing Mulai Pasang Rem

Bagi investor global, aturan ini adalah sinyal bahwa Indonesia mulai serius membenahi struktur pasar, bukan hanya permukaannya.

Diplomasi Regulator ke MSCI

OJK dan BEI juga memilih jalur komunikasi langsung. Keduanya dijadwalkan bertemu MSCI untuk membahas langkah jangka pendek dan rencana perbaikan menengah.

Pendekatan ini krusial. Dalam dunia indeks global, persepsi dibangun dari dialog teknis yang berkelanjutan. Reformasi yang tidak dipahami penyedia indeks bisa gagal memberi dampak reputasi.

Masalahnya, waktu Indonesia tidak panjang. Review MSCI berikutnya sudah di depan mata.

Simbol Krisis, Bos BEI Mundur

Di tengah turbulensi, Direktur Utama BEI Iman Rachman memilih mundur. Ia menyebut keputusan itu sebagai bentuk tanggung jawab atas dinamika pasar.

Baca juga: Bos BEI Mundur Usai IHSG Guncang Pasar, Reformasi Bursa Dipercepat

Langkah ini lebih dari sekadar pergantian jabatan. Ini mencerminkan betapa seriusnya tekanan yang sedang dihadapi pasar modal Indonesia.

Pasar tidak hanya membaca kebijakan. Pasar juga membaca stabilitas kepemimpinan.

Dukungan dari Investor Domestik

Di sisi lain, ada satu penyangga penting, investor dalam negeri.

CIO Danantara, Pandu Sjahrir, menilai langkah MSCI justru bisa menjadi momentum pembenahan. Ia menekankan bahwa pasar modal adalah cerminan kepercayaan, dan investor domestik kini menjadi kekuatan utama aliran dana.

Ini kabar baik. Ketika dana asing ragu, investor domestik bisa menjadi penopang stabilitas.

Baca juga: Ada Apa dengan Pasar Modal Indonesia di Mata Dunia?

Namun untuk kembali menarik dana global, Indonesia tetap harus lulus ujian utama berupa transparansi, likuiditas nyata, dan konsistensi aturan.

Reputasi Tak Pulih dengan Janji

Langkah-langkah yang diumumkan otoritas menunjukkan kesadaran akan masalah. Tapi di mata investor global, yang dinilai bukan niat, melainkan eksekusi.

Pasar ingin melihat:
aturan benar-benar ditegakkan,
struktur kepemilikan membaik,
dan transparansi menjadi standar, bukan respons darurat.

Indonesia sedang berada di fase penting. Jika reformasi ini berjalan konsisten, tekanan dari MSCI bisa berubah menjadi titik balik.

Jika tidak, status pasar Indonesia di peta investasi global bisa terus menyusut, pelan, tapi pasti.

Dan di pasar keuangan, reputasi yang turun satu tingkat sering kali butuh waktu bertahun-tahun untuk naik kembali. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *