
JAKARTA, mulamula.id – Bank Indonesia (BI) segera punya wajah baru di jajaran pimpinan. Thomas Djiwandono resmi ditetapkan sebagai Deputi Gubernur BI. Ia menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri awal Januari lalu.
Keputusan itu diambil Komisi XI DPR lewat rapat musyawarah di Jakarta, Senin (26/1/2026). Nama Thomas kini tinggal menunggu persetujuan dalam Rapat Paripurna DPR sebelum resmi dilantik.
Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, menegaskan penetapan dilakukan lewat mekanisme mufakat internal komisi. Artinya, secara politik, jalur Thomas menuju kursi pimpinan bank sentral sudah terbuka lebar.
Dari Kementerian Keuangan ke Bank Indonesia
Langkah Thomas ke BI bukan lompatan tiba-tiba. Sebelumnya, ia menjabat Wakil Menteri Keuangan. Ia ikut mengawal transisi kebijakan fiskal di akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga awal era Presiden Prabowo Subianto.
Pengalamannya di Kemenkeu membuat Thomas sudah akrab dengan isu makroekonomi. Mulai dari pengelolaan APBN, stabilitas fiskal, hingga koordinasi kebijakan dengan BI.
Baca juga: Thomas–Juda Bertukar Posisi? Sinyal Reposisi BI dan Kemenkeu
Kini, perannya bergeser. Dari mengurus sisi fiskal, ia akan ikut menentukan arah kebijakan moneter, wilayah inti Bank Indonesia. Fokusnya nanti menyentuh suku bunga, inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan.
Latar Belakang yang Tak Biasa
Menariknya, Thomas tidak memulai karier dari bangku ekonomi. Ia lulusan Sejarah dari Haverford College, Amerika Serikat. Namun, dunia ekonomi sudah dekat dengannya sejak kecil.
Ia adalah putra Soedradjad Djiwandono, Gubernur BI periode 1993–1998. Lingkungan keluarga membuat isu ekonomi dan keuangan jadi bagian dari keseharian.
Setelah kuliah, Thomas sempat menjadi jurnalis. Ia pernah magang di Majalah Tempo dan bekerja di Indonesia Business Weekly. Dari sana, kariernya bergeser ke sektor keuangan dan bisnis.
Ia pernah menjadi analis di perusahaan sekuritas di Hong Kong, lalu konsultan bisnis di Jakarta. Gelar magister di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University memperkuat fondasi akademiknya.
Selama dua dekade, Thomas berkarier di Arsari Group dan PT Comexindo International. Ia menduduki berbagai posisi strategis hingga level CEO.
Pernah Aktif di Politik
Thomas juga sempat aktif di politik. Ia menjabat Bendahara Umum Partai Gerindra sejak 2014. Namun, ia telah mundur dari posisi kepengurusan partai per 31 Desember 2025.
Langkah mundur ini penting. Posisi di Bank Indonesia menuntut independensi tinggi dari kepentingan politik. Dengan melepas jabatan partai, Thomas dinilai lebih siap masuk ke ruang kebijakan moneter yang sensitif.
Baca juga: Uji Kelayakan Deputi BI Pekan Ini, Isu Independensi Ikut Mengemuka
Ia juga pernah terlibat dalam tim sinkronisasi ekonomi dan keuangan saat masa transisi pemerintahan 2024. Dari situ, namanya makin sering muncul di lingkar pengambil kebijakan nasional.
Tantangan di Depan Mata
Masuknya Thomas ke BI terjadi di tengah situasi ekonomi global yang belum stabil. Tekanan inflasi, gejolak nilai tukar, hingga ketidakpastian ekonomi dunia masih jadi tantangan besar.
BI butuh koordinasi erat dengan pemerintah. Di sinilah latar belakang Thomas sebagai mantan Wamenkeu bisa jadi jembatan penting antara kebijakan fiskal dan moneter.
Generasi muda mungkin jarang memperhatikan siapa yang duduk di kursi bank sentral. Padahal, keputusan BI berdampak langsung ke bunga kredit, harga barang, hingga peluang kerja.
Nama Thomas Djiwandono kini resmi masuk dalam daftar orang yang ikut menentukan arah ekonomi Indonesia ke depan. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.