
Mulamula.id – TikTok resmi mengambil langkah besar untuk mempertahankan operasinya di Amerika Serikat. Induk perusahaan TikTok, ByteDance, menyepakati perjanjian mengikat untuk melepas kendali operasional TikTok di AS kepada perusahaan gabungan yang mayoritas sahamnya dimiliki investor Amerika.
Kesepakatan ini menjadi titik balik dari ketidakpastian panjang yang membayangi TikTok sejak 2020. Saat itu, pemerintah Amerika Serikat mulai menuding TikTok sebagai ancaman keamanan nasional karena kekhawatiran akses data pengguna oleh pemerintah China.
Mayoritas Saham Kini Dikuasai Investor Amerika
Berdasarkan memo internal TikTok AS, ByteDance sepakat membentuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Dalam struktur kepemilikan baru ini, investor Amerika dan global menguasai 80,1 persen saham, sementara ByteDance mempertahankan 19,9 persen.
Baca juga: 160 Juta Pengguna, Indonesia Jadi Raja TikTok di Asia Tenggara
Sejumlah nama besar masuk dalam konsorsium tersebut, di antaranya Oracle, Silver Lake, serta MGX asal Abu Dhabi. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut valuasi perusahaan baru itu diperkirakan mencapai US$14 miliar, meski angka final belum diumumkan.
Pasar merespons positif kabar ini. Saham Oracle melonjak hampir 6 persen dalam perdagangan prapasar setelah kesepakatan diumumkan.
Upaya Menghindari Larangan Total
Tekanan terhadap TikTok meningkat setelah pemerintah AS mengesahkan undang-undang pada 2024 yang mewajibkan ByteDance melepas aset TikTok di AS jika ingin tetap beroperasi. Presiden Donald Trump sempat menunda pemberlakuan larangan hingga 20 Januari 2025 untuk memberi ruang bagi skema divestasi.
Langkah ini dinilai krusial, mengingat TikTok digunakan lebih dari 170 juta warga Amerika dan telah menjadi bagian penting dari ekosistem digital, termasuk kampanye politik.
Baca juga: TikTok di Ambang Larangan di AS, Apa Penyebabnya?
Trump sendiri memiliki lebih dari 15 juta pengikut di TikTok dan mengklaim platform tersebut berkontribusi terhadap kemenangan pemilihannya. Gedung Putih bahkan meluncurkan akun resmi TikTok pada Agustus lalu.
Algoritma Masih Jadi Tanda Tanya
Meski kesepakatan diumumkan, sejumlah isu penting belum sepenuhnya jelas. Salah satunya terkait kepemilikan dan pengendalian algoritma TikTok.
CEO TikTok Shou Zi Chew menyatakan perusahaan gabungan akan beroperasi sebagai entitas independen, dengan kewenangan penuh atas perlindungan data pengguna AS, keamanan algoritma, serta moderasi konten.
Baca juga: TikTok Jadi Raja, Media Sosial Lain Cuma Figuran?
Namun, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS Rush Doshi menilai belum ada kejelasan apakah algoritma TikTok benar-benar dialihkan, hanya dilisensikan, atau tetap dikendalikan dari China dengan Oracle berperan sebagai pengawas.
Sumber internal juga menyebut ByteDance masih memiliki entitas terpisah yang mengelola bisnis penghasil pendapatan seperti iklan dan e-commerce.
Peran Oracle dalam Keamanan Data
Dalam kesepakatan ini, Oracle ditunjuk sebagai trusted security partner. Perusahaan teknologi asal AS tersebut bertanggung jawab mengaudit kepatuhan dan memastikan data sensitif pengguna TikTok di AS disimpan di pusat data berbasis cloud milik Oracle.
Oracle dipimpin oleh Larry Ellison, yang dikenal sebagai pendukung Trump dan pernah menjadi tuan rumah penggalangan dana kampanye presiden AS tersebut.
Baca juga: Pagi Ini Timeline Sepi, Australia Mulai Nonaktifkan Jutaan Akun Remaja
Proses penggabungan ini dijadwalkan rampung pada 22 Januari 2026. ByteDance hanya berhak menunjuk satu dari tujuh anggota dewan direksi, sementara kursi lainnya didominasi warga Amerika.
Dengan skema baru ini, TikTok tetap beroperasi di AS. Namun, kendali platform kini tidak lagi sepenuhnya berada di tangan ByteDance. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.