
INDONESIA baru saja melakukan “trik” keuangan yang jarang dibahas tapi dampaknya besar untuk lingkungan. Sebagian utang negara ke Amerika Serikat kini tidak perlu dibayar. Uangnya dialihkan untuk membiayai konservasi hutan tropis dan terumbu karang.
Skema ini dikenal sebagai debt-for-nature swap. Lewat program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA), dana yang terkumpul mencapai sekitar US$39,5 juta atau lebih dari Rp600 miliar. Sebagian besar berasal dari utang Indonesia yang dikonversi menjadi hibah lingkungan.
Artinya, uang yang seharusnya keluar untuk bayar cicilan, sekarang dipakai menjaga alam.
Surga Laut yang Sedang Tertekan
Fokus utama program ini ada di wilayah Segitiga Terumbu Karang dunia. Kawasan tersebut mencakup perairan Papua, Nusa Tenggara, hingga Laut Banda. Wilayah ini sering disebut sebagai “Amazon-nya lautan” karena kekayaan biota lautnya luar biasa.
Namun, ancamannya juga nyata. Penangkapan ikan merusak, pemanasan laut, dan tekanan pembangunan pesisir terus menggerus ekosistem karang. Padahal, terumbu karang bukan cuma indah untuk wisata. Karang berfungsi melindungi pantai dari gelombang besar, menjadi rumah ikan-ikan, dan menopang penghidupan nelayan. Kalau karang rusak, ekonomi pesisir ikut terpukul.
Baca juga: Indonesia Rumah Terumbu Karang Dunia
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Koswara, menegaskan program ini bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi bagian dari strategi perlindungan wilayah pesisir.
“Terumbu karang bukan hanya habitat biota laut, tetapi juga pelindung alami garis pantai dan penopang ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, investasi pada konservasi karang adalah investasi jangka panjang bagi ketahanan ekologi dan sosial,” ujarnya saat peluncuran TFCCA di Jakarta.

Masyarakat Jadi Garda Depan
Yang menarik, dana TFCCA tidak hanya dikelola dari pusat. Program ini justru menyasar kelompok masyarakat dan organisasi lokal. Mereka yang hidup dekat laut diberi kesempatan mengelola proyek konservasi secara langsung.
Baca juga: Menukar Utang dengan Pelestarian Terumbu Karang
Minatnya besar. Lebih dari 300 proposal masuk dari berbagai daerah. Untuk tahap pertama, 58 proyek sudah disetujui dan akan berjalan selama 18 bulan mulai 2026. Setelah itu, gelombang berikutnya akan dibuka lagi, sehingga makin banyak komunitas bisa terlibat.
Utang Bisa Jadi Investasi Masa Depan
Agar program tidak sekadar jadi proyek di atas kertas, TFCCA diawasi banyak pihak. Ada pemerintah Indonesia, pemerintah AS, lembaga konservasi, hingga akademisi yang ikut memantau perkembangannya secara rutin.
Baca juga: Laut Jawa Kian Sepi Ikan, Alarm Serius bagi Nelayan dan Lingkungan
Langkah ini menunjukkan satu hal penting, menjaga alam tidak selalu harus menunggu anggaran baru. Dengan skema kreatif, utang pun bisa diubah jadi investasi masa depan.
Kalau model ini berhasil, bukan tidak mungkin pendekatan serupa dipakai untuk melindungi mangrove, hutan gambut, atau ekosistem penting lainnya di Indonesia. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.