
PETA pariwisata global sedang bergeser.
Liburan tak lagi soal datang, foto, lalu pulang.
Tahun 2026 diprediksi menjadi era perjalanan yang lebih personal. Lebih relevan. Lebih “gue banget”.
Laporan 2026 Travel Trends dari Skyscanner menunjukkan satu hal penting. Wisatawan kini merancang perjalanan berdasarkan minat, gaya hidup, dan kebutuhan emosional, bukan sekadar destinasi viral.
CEO Skyscanner, Bryan Batista, menyebut perjalanan masa depan akan semakin terkurasi. Orang bepergian bukan hanya untuk melihat tempat baru, tapi untuk menjalani pengalaman yang bermakna.
Mulai dari memilih hotel tertentu, ikut retret membaca, menyusun itinerary berbasis self-care, hingga liburan lintas generasi bersama keluarga besar.
Baca juga: Travel Hijau, Bisnis Baru Dunia Wisata
Sumber laporan ini dikutip oleh Hospitality Net dan Breaking Travel News.
Lalu, seperti apa wajah liburan di 2026?
1. Glowmads, Liburan Sekaligus Rawat Diri
Wellness naik kelas.
Sekitar 27 persen wisatawan berencana memasukkan spa, skin retreat, hingga ritual kecantikan ke dalam agenda liburan mereka.
Artinya jelas. Liburan bukan lagi pelarian, tapi pemulihan.
Fokusnya bukan cuma fisik, tapi juga kesehatan mental.
2. Shelf Discovery Supermarket Jadi Destinasi
Fine dining mulai tergeser.
Sebanyak 43 persen traveler justru lebih tertarik menjelajah supermarket lokal, pasar tradisional, dan street food.
Baca juga: Slow Travel, Wisata Santai yang Makin Digemari
Makanan autentik. Harga masuk akal. Cerita lokal.
Pengalaman rasa kini lebih penting daripada meja mewah.
3. Altitude Shift, Kabur ke Alam dan Pegunungan
Udara sejuk jadi komoditas baru.
Skyscanner mencatat lonjakan pencarian akomodasi dengan pemandangan gunung.
Bagi banyak orang, alam kini jadi ruang jeda dari ritme kota yang melelahkan.
4. Wisata Berbasis Minat Pribadi
Tren lain yang menguat adalah perjalanan tematik.
Mulai dari bookbound travel (wisata literasi), solo trip, hingga liburan lintas generasi.
Destinasi bukan lagi pusat cerita. Minat pribadi yang jadi porosnya.

Dampaknya ke Industri Wisata
Perubahan ini memberi sinyal kuat bagi pelaku pariwisata.
Wisatawan tidak lagi mengejar yang “rame” atau “instagramable”.
Baca juga: Tren Pariwisata 2025: Personalisasi dan Keberlanjutan Jadi Kunci
Mereka mencari pengalaman yang nyambung dengan hidup mereka.
Artinya, industri perlu beradaptasi. Paket wellness. Kelas memasak lokal. Program alam dan budaya. Layanan fleksibel dan personal.
Liburan 2026 bukan tentang ke mana kamu pergi.
Tapi, tentang siapa kamu saat bepergian. ***
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.