Yang Dianggap Hama, Ternyata Penyelamat Iklim

Aktivitas berang-berang dalam membentuk kolam dan bendungan yang berperan sebagai penyerap karbon alami. Foto: AI-Generated/ Mulamula.id.

SELAMA ini, berang-berang sering dilihat sebagai pengganggu.
Mereka menumbangkan pohon. Membendung sungai. Mengubah lanskap.

Tapi, penelitian terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya.
Hewan ini bisa jadi sekutu diam-diam dalam melawan krisis iklim.

Dari “Perusak” Jadi Penyerap Karbon

Studi yang dipublikasikan pada 18 Maret di jurnal Communications Earth and Environment menemukan bahwa bendungan dan kolam yang dibangun berang-berang mampu mengubah ekosistem sungai menjadi penyerap karbon alami.

Melansir Live Science, kawasan yang dipengaruhi berang-berang bisa menyimpan lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan setiap tahun.

Penelitian ini dilakukan di Swiss utara, pada aliran sungai sepanjang 0,8 kilometer.

Baca juga: Ternyata Hutan Adalah “Pabrik Hujan” Bumi

Sebelum berang-berang hadir, area ini berupa dataran banjir dengan banyak pepohonan.
Setelah mereka datang, lanskap berubah.

Pohon-pohon ditebang untuk bendungan. Kanopi terbuka. Tanaman kecil dan alga tumbuh. Air melambat. Sedimen mulai mengendap.

Dan dari situlah karbon mulai “dikunci”.

Angkanya Tidak Kecil

Tim peneliti mengukur karbon dari berbagai sumber: air, atmosfer, sedimen, biomassa, hingga kayu mati.

Hasilnya mengejutkan. Ekosistem yang dibentuk berang-berang mampu menyerap sekitar 98 hingga 133 ton karbon per tahun. Setara dengan emisi dari ratusan barel minyak.

Jika diperluas, dampaknya makin terasa.

Di Swiss, restorasi habitat berang-berang diperkirakan bisa mengimbangi 1,2% hingga 1,8% emisi karbon tahunan.

“Berang-berang tidak akan menyelesaikan perubahan iklim, tapi mereka bisa membantu secara konsisten dalam jangka panjang,” kata Peneliti dari University of Birmingham, Lukas Hallberg.

Solusi Murah, Tanpa Teknologi

Yang menarik, semua ini terjadi tanpa teknologi mahal.

Tidak ada mesin. Tidak ada biaya operasional besar.
Hanya proses alami yang dibiarkan berjalan.

Baca juga: Limbah Batu Bara Mau Jadi Genteng Rumah, Aman Nggak Sih?

Pendekatan ini justru mulai dilirik sebagai alternatif. Bukan menggantikan teknologi, tapi melengkapinya. “Bekerja dengan proses alami bukan hanya masuk akal secara ekologis, tapi juga secara ekonomi,” ujar Hallberg.

Mengubah Cara Kita Melihat Alam

Selama ini, lahan basah sering dianggap masalah. Karena bisa menghasilkan gas rumah kaca seperti metana.

Tapi studi ini memberi perspektif baru.

Emily Fairfax dari University of Michigan menyebut kolam berang-berang sebagai penyerap karbon yang tahan lama.

Artinya, manfaatnya jauh lebih besar dibanding dampak negatifnya.

Bahkan, ekosistem ini juga membuat lanskap lebih tahan terhadap kebakaran hutan, yang berarti mencegah pelepasan karbon dalam jumlah besar.

Tidak Perlu Banyak Intervensi

Ada satu pelajaran penting dari temuan ini. Kadang, solusi terbaik bukan menambah intervensi. Tapi, justru mengurangi.

Berang-berang pernah diburu hingga hampir punah di Eropa dan Amerika Utara.
Bersamaan dengan itu, fungsi ekosistem yang mereka bangun ikut hilang.

Baca juga: Laut Kita Bisa Jadi Pembangkit Listrik, Kok Masih Diabaikan?

Kini, ketika populasinya mulai pulih, manfaatnya kembali terlihat.

Dan mungkin, yang perlu kita lakukan hanyalah memberi ruang.

Karena dalam banyak kasus, alam sebenarnya sudah tahu caranya sendiri untuk pulih, dan membantu kita bertahan. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *