1,7 Juta Pekerja Kena PHK, AI Disebut Jadi Faktor Baru

Aktivitas pekerja teknologi di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam sistem kerja perusahaan global. Foto: Mikhail Nilov/ Pexels.

Mulamula.idKecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan bekerja. Namun di tengah gelombang PHK besar di Amerika Serikat, muncul pertanyaan baru, benarkah AI sudah mengambil pekerjaan manusia?

Data terbaru menunjukkan tekanan itu memang nyata. Sejak tahun lalu hingga Februari 2026, sekitar 1,72 juta pekerja di Amerika Serikat mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Sebagian perusahaan mulai menyebut AI sebagai penyebabnya.

Tapi CEO OpenAI, Sam Altman, justru meminta publik tidak buru-buru menyimpulkan.

Baca juga: AI Mulai Belajar Memahami Emosi Publik Indonesia

Dalam wawancara yang dikutip media teknologi Tech Radar dan CNBC-TV18, Altman menilai banyak perusahaan terlalu mudah membawa nama AI ke dalam alasan PHK. Ia bahkan menyebut fenomena itu sebagai semacam “AI washing” atau pencucian citra AI.

Menurut dia, tidak semua PHK yang terjadi saat ini benar-benar disebabkan oleh kecerdasan buatan.

AI dan Narasi Baru

AI adalah teknologi yang memungkinkan mesin menjalankan tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, mulai dari menulis, menganalisis data, hingga membuat keputusan otomatis.

Dalam beberapa tahun terakhir, AI berkembang sangat cepat. Banyak perusahaan teknologi mulai mengubah strategi bisnis mereka demi mengejar efisiensi dan otomatisasi.

Di sisi lain, investor global juga mulai melihat AI sebagai simbol masa depan industri digital. Akibatnya, perusahaan yang dianggap “bertransformasi AI” sering memperoleh sentimen pasar yang lebih positif.

Di titik ini, AI bukan hanya soal teknologi. Tapi, mulai menjadi bagian dari strategi komunikasi korporasi.

“Tidak semua PHK akibat AI benar-benar murni karena AI,” kata Altman dalam wawancara tersebut.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan manusia secara besar-besaran.

Gelombang Efisiensi

Meski demikian, dampak AI terhadap tenaga kerja tetap sulit diabaikan.

Data dari layoffs.fyi mencatat lebih dari 92 ribu pekerja teknologi terkena PHK sejak awal 2026. Sebagian besar berkaitan dengan efisiensi perusahaan, restrukturisasi bisnis, atau pergeseran investasi menuju pengembangan AI.

Perkembangan AI mulai mengubah pola kerja industri digital, termasuk mendorong efisiensi dan restrukturisasi tenaga kerja di sejumlah perusahaan teknologi. Foto: Mikhail Nilov/ Pexels.

Banyak perusahaan kini mulai mengurangi kebutuhan tenaga kerja administratif, customer service, hingga pekerjaan berbasis pengolahan data rutin.

Baca juga: AI Sudah Dipakai di Layanan Publik, Hukum Kita Siap?

Jawaban langsungnya, AI memang belum sepenuhnya menjadi penyebab utama semua PHK, tetapi teknologi ini mulai mempercepat perubahan struktur pekerjaan global.

Fenomena itu mirip dengan revolusi teknologi sebelumnya. Mesin menggantikan sebagian pekerjaan lama, tetapi pada saat yang sama menciptakan profesi baru yang sebelumnya tidak pernah ada.

Altman sendiri mengakui fase transisi ini tidak akan mudah.

Ia pernah menulis pada 2025 bahwa akan ada “kelas pekerjaan” yang hilang akibat AI. Namun di saat bersamaan, dunia juga berpotensi menjadi jauh lebih produktif dan kaya.

Pekerjaan Lama, Skill Baru

Perubahan terbesar kemungkinan bukan sekadar hilangnya pekerjaan, melainkan berubahnya jenis keterampilan yang dibutuhkan.

Perusahaan mulai mencari pekerja yang mampu bekerja bersama AI, bukan melawannya. Kemampuan analisis, kreativitas, komunikasi, hingga penguasaan teknologi digital menjadi semakin penting.

Banyak pekerjaan repetitif kemungkinan akan semakin terotomatisasi. Sebaliknya, profesi yang membutuhkan empati, strategi, dan pengambilan keputusan kompleks masih akan sangat dibutuhkan.

Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya soal lapangan kerja, tetapi kesiapan manusia menghadapi perubahan.

Baca juga: Mahasiswa ITB Ciptakan Parfum Berbasis AI, Siap Tampil di Paris 2026

Laporan USA Facts dan berbagai riset pasar tenaga kerja menunjukkan transformasi AI kini mulai bergerak dari laboratorium teknologi menuju ruang kerja sehari-hari.

Dampaknya mungkin belum sepenuhnya terasa hari ini. Namun, arah perubahannya sudah mulai terlihat.

Dan seperti revolusi teknologi sebelumnya, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia kerja, melainkan seberapa cepat manusia mampu beradaptasi dengannya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *