Di era yang serba cepat, sebagian orang tak lagi membaca buku, mereka mendengarkannya. Literasi bertransformasi, tapi maknanya tetap sama, yakni memahami dunia dengan sadar. Foto: Ilustrasi/ Mart Production/ Pexels.
DARIMembaca ke Mendengar
Dulu, membaca identik dengan membuka halaman. Kini, cukup pasang earphone, dan buku pun bercerita sendiri. Aplikasi audiobook bermunculan, memberi harapan baru bagi mereka yang sibuk tapi tak ingin jauh dari ilmu. Mendengar buku jadi cara modern untuk “membaca”, tanpa benar-benar membuka halaman.
Namun, ada yang patut direnungkan. Apakah mendengar buku sama dengan memahami buku?
Literasi yang Berubah Wajah
Di tengah arus hidup yang makin cepat, cara manusia berinteraksi dengan ilmu pun berubah. Storytel, misalnya, kini punya ribuan koleksi buku dalam bentuk audio. Dari novel sastra sampai buku pengembangan diri berbahasa Indonesia. Ada juga Audible, raksasa audiobook global milik Amazon, dan AudioToon, aplikasi lokal dengan konten narasi yang ringan tapi menghibur.
Semua menawarkan hal sama, kenyamanan. Tapi kenyamanan sering datang bersama risiko, kehilangan kedalaman.
Karena ketika membaca buku, kita melambat, merenung, memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja. Sedangkan ketika mendengar, kita sering melakukannya sambil melakukan hal lain. Dan di situlah makna bisa mudah menguap.
Antara Efisiensi dan Esensi
Bukan berarti mendengar buku salah. Sebaliknya, itu justru membuka jalan baru bagi banyak orang untuk tetap dekat dengan bacaan. Bagi difabel netra, audiobook adalah jembatan menuju dunia pengetahuan yang lebih inklusif. Bagi pekerja sibuk, audiobook bisa jadi pengingat bahwa ilmu bisa hadir bahkan di tengah perjalanan pulang.
Namun, literasi sejati bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang “selesai,” melainkan seberapa banyak gagasan yang meninggalkan jejak di kepala.
Membaca dengan Telinga, Memahami dengan Pikiran
Mungkin ini era baru literasi. Kita tak lagi membaca dengan mata, tapi dengan telinga. Namun, apa pun mediumnya, tujuannya tetap sama, yakni memahami, bukan sekadar tahu.
Karena di tengah dunia yang cepat ini, buku bukan lagi sekadar halaman yang dibaca, tapi suara yang mengingatkan kita untuk tetap berpikir pelan-pelan.
Di dunia yang sibuk berlari, mendengarkan buku bisa jadi cara paling lembut untuk berhenti sejenak dan belajar lagi menjadi manusia. Salam literasi. ***
Catatan Redaksi
Aksara adalah rubrik khusus mulamula.id yang hadir setiap akhir pekan untuk menggugah publik agar kembali ke khitah ilmu: membaca, memahami, dan berpikir. Lewat tulisan reflektif, satir, hingga inspiratif, Aksara mengingatkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari kecepatan scroll, tapi dari halaman yang dibaca dengan sabar.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.