Target Apple 2030 Ternyata Bergantung pada Hutan Sumatra

Hutan Sumatra menjadi rumah bagi satwa langka seperti orangutan, harimau, dan gajah, sekaligus menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Foto: Dok. WWF.

TARGET iklim Apple tak hanya dibangun di laboratorium canggih atau pusat data berteknologi tinggi. Di balik ambisi nol karbon perusahaan teknologi raksasa itu, ada peran penting alam Indonesia, khususnya hutan Sumatra.

Pesan itu tersirat jelas saat Vice President Environment, Policy, and Social Initiatives Apple, Lisa Jackson, berkunjung ke Bali dalam ajang wisuda Apple Developer Academy 2025. Di sela acara teknologi dan pendidikan, Apple justru banyak bicara soal lingkungan, energi bersih, dan masa depan hutan tropis.

Apple 2030 adalah target besar perusahaan berbasis di Cupertino untuk mencapai netral karbon di seluruh rantai bisnisnya pada 2030. Bukan hanya operasional kantor, tetapi juga manufaktur, pemasok, pengiriman produk, hingga penggunaan perangkat oleh konsumen.

Alam Jadi Bagian Strategi

Apple mengakui satu hal penting. Nol emisi mutlak hampir mustahil dicapai. Karena itu, perusahaan menargetkan pengurangan emisi besar-besaran. Sisa emisi yang tak bisa dihilangkan akan diseimbangkan lewat investasi berbasis alam.

Di titik inilah hutan Sumatra masuk dalam peta besar Apple 2030.

Baca juga: Kenapa Warganet Sampai Kepikiran Patungan Beli Hutan?

Hutan tropis menyerap karbon secara alami. Hutan bekerja tanpa mesin, tanpa kabel, tanpa server. Namun, perannya krusial untuk menahan laju perubahan iklim. Apple menyebut hutan Indonesia sebagai salah satu ekosistem paling penting jika dunia ingin benar-benar membuat perbedaan.

Bukit Tigapuluh dan Satwa Kunci

Salah satu contoh nyata adalah dukungan Apple terhadap WWF untuk memantau deforestasi di kawasan Bukit Tigapuluh, Sumatra. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu hutan dataran rendah terakhir di pulau tersebut.

Baca juga: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatra, dari Mana Semua ini Berasal?

Bukit Tigapuluh juga menjadi rumah bagi satwa langka seperti harimau Sumatra, gajah, dan orangutan. Bagi Apple, kerusakan hutan tak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan manusia di sekitarnya.

Pesannya sederhana. Jika hutan rusak, dampaknya akan terasa ke mana-mana.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Energi Bersih dan Kesempatan Hidup

Menariknya, Apple tak hanya bicara hutan. Lisa Jackson menekankan bahwa energi bersih adalah soal keadilan. Bukan cuma urusan industri, tetapi soal kesempatan hidup yang setara.

Akses listrik menentukan banyak hal. Anak-anak bisa belajar atau tidak. Komunitas bisa berkembang atau tertinggal. Karena itu, Apple juga mendukung proyek energi bersih skala kecil lewat program Power for Impact, termasuk untuk sekolah dan komunitas.

Indonesia, dengan populasi besar dan tantangan energi yang nyata, menjadi bagian penting dari pendekatan ini.

Tantangan Masih Besar

Meski mengklaim telah memangkas jejak karbon global hingga 60 persen dibandingkan 2015 dan menjalankan operasional dengan 100 persen energi terbarukan, Apple mengakui jalan menuju 2030 tidak mudah.

Rantai pasok global masih bergantung pada energi fosil. Material perangkat masih berasal dari hasil tambang. Pengiriman lintas negara masih menyumbang emisi besar.

Baca juga: Dari Batang Toru ke Banjir Besar, Hutan Sumatra Kirim Peringatan Keras

Karena itu, peran alam, termasuk hutan Sumatra, menjadi semakin strategis.

Target Apple 2030 akhirnya bukan hanya soal teknologi. Tapi, juga tentang bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan alam. Dan di cerita besar itu, Indonesia tak lagi berada di pinggir. Negeri ini ada di pusatnya. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *