
BANJIR akibat perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Tapi, sedang terjadi sekarang, dan dampaknya makin terasa di berbagai belahan dunia. Salah satu pemicunya datang dari wilayah yang jarang disorot, pegunungan tinggi dan gletser.
Studi terbaru dari University of Dundee, Skotlandia, menunjukkan lonjakan tajam banjir bandang yang berasal dari danau gletser. Banjir ini dikenal sebagai glacial lake outburst floods, terjadi ketika danau yang terbentuk dari lelehan gletser tiba-tiba jebol dan melepaskan air dalam jumlah besar ke wilayah hilir.
Fenomena ini semakin sering terjadi sejak 1980-an. Dampaknya tidak main-main. Ribuan nyawa melayang, infrastruktur rusak, dan komunitas di hilir menghadapi risiko yang terus membesar.
Dari Lelehan Es ke Banjir Bandang
Saat gletser mencair, air lelehannya mengumpul di cekungan alami bekas es purba. Danau-danau ini dibendung oleh material rapuh seperti pasir, lumpur, dan kerikil. Tidak ada beton. Tidak ada struktur permanen.
Ketika tekanan air meningkat atau material penahan melemah, bendungan alami ini bisa runtuh. Air meluncur deras ke bawah, membawa lumpur, batu, dan puing. Dalam hitungan menit, wilayah hilir bisa berubah menjadi jalur bencana.
Baca juga: Pegunungan Kini Memanas Lebih Cepat dari Dataran Rendah
Penelitian yang dimuat di jurnal Nature Communications mencatat rata-rata 5,2 banjir danau gletser per tahun pada periode 1981–1990. Angka itu melonjak menjadi 15,2 kejadian per tahun pada 2011–2020.
Angka Global, Dampak Nyata
Temuan tersebut diperkuat riset lain dari Chinese Academy of Sciences. Dengan menelusuri data satelit dan arsip selama 120 tahun, para peneliti mengidentifikasi 609 kejadian jebolnya danau gletser di seluruh dunia sepanjang 1900–2020.

Lebih dari 100 kejadian tercatat menyebabkan kerusakan besar. Total korban jiwa secara global mencapai lebih dari 13.000 orang. Wilayah paling terdampak berada di kawasan pegunungan Asia dan Andes tropis, tempat jutaan orang tinggal di daerah rawan.
Baca juga: Gletser Dunia Meleleh, 2 Miliar Jiwa Terancam Krisis Air
Banjir ini bukan hanya soal alam. Tapi, berkaitan langsung dengan keselamatan manusia, akses transportasi, pasokan energi, dan stabilitas ekonomi lokal.
Pemanasan Hari Ini, Bencana Esok Hari
Yang membuat situasi ini kian mengkhawatirkan adalah adanya jeda waktu. Studi Dundee menemukan bahwa kenaikan suhu global hari ini bisa memicu banjir danau gletser lima hingga 20 tahun kemudian.
Artinya, dampak perubahan iklim tidak langsung terasa, tetapi terus menumpuk. Sekitar 70 persen kejadian banjir dipicu longsoran es dan batu yang jatuh ke danau gletser, menciptakan gelombang besar yang meluap.
Baca juga: Perubahan Iklim Lenyapkan Es Abadi Papua, Indonesia Terancam
Menurut pakar glasiologi Dr. Simon Cook, frekuensi banjir ini relatif stabil hingga 1970-an. Namun sejak pemanasan global meningkat pesat, jumlah kejadian melonjak tajam.
Banjir dari pegunungan menjadi pengingat keras. Perubahan iklim bukan lagi ancaman jauh. Tapi sudah hadir, bergerak perlahan, dan menunggu saatnya menghantam wilayah yang paling rentan. ***
Penulis: R. Bestian
Penyunting: Hamdani S Rukiah
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.