Riset Ungkap Pembukaan Hutan di Hulu Batang Toru Jelang Bencana Sumatra

Masjid dan permukiman warga Desa Garoga terendam lumpur akibat banjir bandang di wilayah Batang Toru, Sumatra Utara. Riset terbaru menyoroti pembukaan hutan di hulu sungai sebelum bencana terjadi. Foto: @mdmcjateng 

BANJIR bandang dan longsor yang melanda Sumatra pada akhir 2025 menyisakan banyak pertanyaan. Hujan ekstrem akibat Siklon Senyar memang menjadi pemicu. Tapi riset terbaru menunjukkan, kerentanan wilayah sudah terbentuk jauh sebelum bencana datang.

Penelitian yang dilakukan Earthsight bersama Auriga Nusantara mengungkap adanya pembukaan hutan skala besar di kawasan hulu Sungai Batang Toru, Sumatra Utara. Area ini merupakan wilayah pegunungan dengan lereng curam, yang secara alami berfungsi menahan air dan tanah.

Lewat analisis citra satelit, riset tersebut menemukan pembukaan hutan terjadi secara intensif dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, aktivitas itu masih berlangsung hingga November 2025, hanya beberapa waktu sebelum bencana melanda.

Dibuka di Medan Rawan Longsor

Sebagian area yang teridentifikasi berada di dalam konsesi PT Toba Pulp Lestari, perusahaan pemasok bahan baku pulp untuk industri global. Riset mencatat, antara 2021 hingga awal Desember 2025, ratusan hektare hutan alam pegunungan telah dibuka di satu blok konsesi. Pembukaan juga terdeteksi meluas hingga ke luar batas izin.

Baca juga: Dari Batang Toru ke Banjir Besar, Hutan Sumatra Kirim Peringatan Keras

Skalanya tidak kecil. Total area yang dibuka setara lebih dari dua kali luas Central Park di New York. Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi ini berada di kawasan dengan tingkat risiko longsor sangat tinggi menurut peta pemerintah.

Wilayah tersebut berstatus hutan produksi terbatas. Artinya, pembukaan hutan secara masif seharusnya dibatasi. Namun citra satelit menunjukkan penggunaan alat berat di medan terjal, yang secara langsung mengurangi daya serap tanah dan memperbesar limpasan air saat hujan deras.

Baca juga: Gelondongan Kayu di Banjir Sumatra, dari Mana Semua ini Berasal?

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ MulaMula.
Risiko yang Menumpuk

Dalam konteks lingkungan, pembukaan hutan di hulu sungai bukan sekadar soal hilangnya pepohonan. Dampaknya bersifat sistemik. Tanpa tutupan vegetasi, tanah menjadi lebih mudah longsor. Sungai pun lebih cepat meluap.

Baca juga: Ada Jejak Pembalakan dan Salah Urus di Balik Banjir Sumatra

Itulah sebabnya banyak ahli menilai, bencana hidrometeorologis jarang berdiri sendiri. Cuaca ekstrem memang memicu. Tapi kerusakan lingkungan menentukan seberapa parah dampaknya dirasakan warga.

Respons Perusahaan dan Pemerintah

PT Toba Pulp Lestari membantah temuan tersebut. Perusahaan menyatakan riset internalnya tidak menemukan pembukaan hutan seluas yang dilaporkan. Mereka juga menyebut sebagian area dikelola masyarakat melalui skema kemitraan kehutanan serta menegaskan kepatuhan pada aturan.

Namun Earthsight dan Auriga menilai peta yang disampaikan perusahaan tidak tumpang tindih dengan area pembukaan hutan yang mereka identifikasi. Laporan itu juga menegaskan tidak semua banjir di Sumatra dikaitkan langsung dengan aktivitas perusahaan, tetapi menyoroti longsor dan kerusakan di wilayah yang terhubung dengan area hulu yang dibuka.

Baca juga: Kejaksaan Turun Tangan, Banjir Sumatra Diduga Terhubung ke Deforestasi

Di sisi lain, pemerintah mulai bertindak. Pada Desember 2025, Kementerian Kehutanan menyegel lima lokasi di Tapanuli yang dinilai berpotensi berkontribusi pada kerusakan lingkungan akibat bencana, termasuk dua titik di dalam konsesi PT Toba Pulp Lestari.

Kasus Batang Toru menjadi pengingat penting. Bencana tidak selalu datang tiba-tiba. Bencana sering kali didahului oleh keputusan-keputusan yang mengikis daya tahan alam, perlahan tapi pasti. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *