Gen Z Mulai Memilih Produk Berkelanjutan, Bukan Sekadar Keren

Anak muda menikmati waktu di ruang publik. Bagi Gen Z, gaya hidup kini tak sekadar soal tampilan, tapi juga pilihan yang mencerminkan nilai.Foto: Ilustrasi/ Antonio Miralles Andorra/ Pexels.

Mulamula.idBelanja bagi Gen Z Indonesia tak lagi sesederhana masuk toko, pilih barang, lalu bayar. Ada proses berpikir yang lebih panjang. Ada pertanyaan yang ikut muncul di kepala, produk ini dibuat bagaimana. Ramah lingkungan atau tidak dan ada dampak sosialnya?

Di titik inilah gaya hidup Gen Z mulai bergeser, dari sekadar mengikuti tren, menuju konsumsi yang lebih sadar dan etis.

Gen Z tumbuh di tengah banjir informasi, krisis iklim, dan isu lingkungan yang tak lagi terasa jauh. Mereka terbiasa mencari tahu sebelum membeli. Media sosial menjadi ruang edukasi sekaligus pengawas. Brand bisa diangkat, tapi juga bisa dijatuhkan, hanya dalam hitungan jam.

Baca juga: Momen Langka, Istri PM Singapura Bawa Sendiri Dua Tas di Karpet Merah

Perubahan ini bukan asumsi semata. Riset konsumen global yang dirilis First Insight menunjukkan mayoritas Gen Z lebih memilih brand yang peduli pada dampak sosial dan lingkungan. Bahkan, sebagian menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk yang dinilai bertanggung jawab. Bagi Gen Z, membeli bukan cuma soal kebutuhan, tapi juga cara mengekspresikan sikap.

Dari harga ke nilai

Jika generasi sebelumnya sering menjadikan harga sebagai penentu utama, Gen Z mulai menambahkan variabel lain. Nilai sosial, etika produksi, hingga transparansi brand ikut diperhitungkan. Mereka ingin tahu siapa yang membuat produk itu, dari mana bahan bakunya, dan apakah prosesnya merugikan lingkungan atau manusia lain.

Tak heran jika produk lokal berkelanjutan, UMKM berbasis komunitas, hingga brand dengan cerita sosial yang kuat semakin mendapat tempat. Cerita menjadi mata uang baru. Namun bukan cerita kosong, melainkan narasi yang bisa dicek dan dibuktikan.

Anti-greenwashing, pro-kejujuran

Gen Z juga dikenal paling sensitif terhadap greenwashing. Klaim “eco-friendly” tanpa bukti justru bisa menjadi bumerang. Mereka terbiasa membaca komentar, membandingkan sumber, dan saling mengingatkan di kolom diskusi.

Baca juga: Secangkir Rp16 Juta, Kemewahan Baru Minum Kopi di Dubai

Menariknya, Gen Z tidak selalu menuntut kesempurnaan. Mereka lebih menghargai kejujuran. Brand yang mengakui keterbatasan, tapi menunjukkan upaya nyata, sering kali lebih dipercaya daripada brand yang mengklaim serba hijau tanpa transparansi.

Sustainability versi sehari-hari

Keberlanjutan ala Gen Z Indonesia juga tidak selalu besar dan heroik. Justru hadir dalam pilihan-pilihan kecil:

  • memilih thrifting daripada fast fashion,
  • membawa botol minum sendiri,
  • membeli produk lokal untuk memangkas jejak distribusi,
  • atau mendukung usaha kecil yang punya dampak sosial.

Bagi mereka, sustainability bukan jargon, tapi kebiasaan. Bukan soal menjadi paling hijau, tapi menjadi lebih bertanggung jawab dari hari ke hari.

Loyal, tapi mudah berpindah

Perubahan cara berpikir ini ikut memengaruhi loyalitas. Gen Z bisa sangat setia pada brand yang konsisten dengan nilai yang mereka yakini. Namun sebaliknya, mereka juga cepat berpaling jika merasa dikhianati. Nilai sosial dan lingkungan kini berdiri sejajar dengan kualitas dan harga.

Baca juga: Bye, Hermes! Veronique Nichanian Akhiri 37 Tahun Gaya Elegan Tanpa Pamer

Inilah sebabnya konsumsi etis di kalangan Gen Z bukan tren sesaat. Tapi, sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Dari kopi yang diminum, baju yang dipakai, hingga tempat nongkrong yang dipilih.

Pada akhirnya, Gen Z tidak berhenti konsumsi. Mereka hanya ingin konsumsi dengan lebih masuk akal. Lebih sadar. Lebih jujur. Dan lebih bertanggung jawab.

Karena bagi mereka, yang benar-benar keren hari ini bukan cuma yang terlihat bagus, tapi yang berdampak baik. ***

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel Mulamula.id dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *